Cerita Mahasiswa Indonesia di Sudan, Umroh 'Backpacker' ke Tanah Suci

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Yusuf Assidiq

 Mahasiswa Sudan asal Indonesia, Rif
Mahasiswa Sudan asal Indonesia, Rif | Foto: Dokumen

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Pelaksanaan ibadah umroh ke Tanah Suci tampaknya menjadi salah satu impian setiap umat Muslim. Oleh karena itulah tidak semua orang yang berkesempatan untuk menunaikannya, bisa jadi terhalang waktu, dana, ataupun kesehatan.

Walaupun biaya umroh pun juga terbilang tak kecil, namun umroh 'backpacker' dapat menawarkan perjalanan umroh dengan biaya lebih efisien. Jamaah umroh bisa mewujudkan perjalanan umroh secara mandiri pergi ke Tanah Suci Makkah dengan biaya yang relatif murah dibandingkan dengan umroh reguler yaitu mulai dari memesan tiket pesawat, visa, durasi tinggal di (Makkah dan Madinah), hotel, dan rutenya.

"Dalam umroh 'backpaker', jamaah bisa mengerjakan umroh meski tanpa pembimbing, jika mengetahui tata cara umroh dari awal sampai akhir," ungkap Humas Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, H Alief Einstein, Jumat (6/5/22).

Selanjutnya ia mengatakan salah satu jamaah Masjid Agung Baitussalam Rif'an Ali Hafidz memilih umroh backpacker, yaitu pihak travel hanya menyediakan tiket pesawat dan visa saja. Selain itu, seperti hotel, guide dan makan harus cari sendiri sesampainya di Makkah.

Rifan Ali Hafidz merupakan mahasiswa S1 Khartoum Internasional Institute for Arabic Language Sudan. Cerita diawali ketika Rif'an memutuskan untuk tidak lagi menjalani ibadah puasa bulan Ramadan di Sudan untuk kelima kalinya di 2022 ini.

Ya, bagi Rif'an pribadi, ini adalah tahun kelima Rif'an menetap tinggal di Negeri Dua Nil sejak kedatangannya yang pertama di Sudan pada akhirNovember 2017, itu artinya sudah empat Ramadan dan lebaran Rif'an jalani di Sudan.

Berikut kilas perjalanan umrah backpaker mahasiswa Sudan asal Indonesia tersebut:

1. Perjalanan ke Jeddah

Singkat cerita, setelah Rif'an berdiskusi dengan orangtuanya ia memutuskan untuk memilih Arab Saudi sebagai tujuan. Kala itu, tepatnya pada Maret 2022, broadcast iklan tentang biro paket perjalanan umroh bulan Ramadan bertebaran melalui Whatsapp Grup warga Indonesia di Sudan.

Ada yang memasang  tarif 900 dolar (fasilitas visa umroh 30 hari, penginapan tiga hari Makkah tiga hari Madinah, makan enam hari), 560 dollar (fasilitas hampir serupa dengan yang sebelumnya, namun tanpa tiket pesawat). Ada pula yang memasang tarif 700 dollar (fasilitas tanpa penginapan dan catering).

Rif'an memilih yang lebih murah dengan fasilitas yang mumpuni, bukan yang 560 dollar, tetapi 700 dollar (Rp 10,5 juta). karena kalau dihitung-hitung untuk mendapatkan tiket pesawat pulang pergi Khartoum-Jeddah, membutuhkan biaya kira-kira 350 dollar.

Apalagi memang tujuan Rif'an pergi itu untuk 'membolang', pastinya mengusahakan untuk mengeluarkan biaya yang seminim mungkin. Namun, pada akhirnya Rif'an malah mendapatkan biaya sebesar 850 dollar (Rp 12.500.000) dari biaya awal yang tertera 700 dollar itu.

Katanya karena ketika mendaftar sudah dekat dengan bulan Ramadan, maka biaya juga semakin naik. Segala macam berkas Rif'an siapkan, mulai dari paspor, surat pernyataan perjalanan, surat kuning perjalanan, dan kepengurusan visa kembali ke Sudan, yang kira-kira jika Rif'an estimasikan sekitar Rp 300 ribu.

Hal itu Rif'an lakukan sebagai syarat kepengurusan perjalanan. Bergabunglah delapan orang lainnya dalam perjalanan Rif'an, tentunya mereka semua juga berstatus sebagai pelajar Indonesia yang ada di Sudan. Tiket pesawat pulang-pergi sudah siap.

Visa umroh sudah siap. Namun, beberapa hari sebelum keberangkatan, mereka dipusingkan dengan persoalan PCR dan vaksin sebagai syarat perjalanan. Bukan karena adanya persyaratan dari pihak bandara, melainkan karena semata-mata pertanyaan dari mereka sendiri sebagai tanda waspada, melihat bagaimana kenyataan di luar yang telah banyak berubah disebabkan efek domino dari pandemi Covid-19 yang melanda.

Apalagi melihat biaya untuk PCR dan vaksin di Sudan yang memang lumayan tinggi. Demi menjawab kegelisahan tentang hal tersebut, Rif'an dan teman-temannya memutuskan untuk pergi langsung menuju kantor maskapai penerbangan Saudi Airlines.

Setelah Rif'an menanyakan ke pihak karyawan maskapai, ternyata Arab Saudi sekarang sudah tidak mensyaratkan PCR dan Vaksin dalam perjalanannya. Dalam artian, Arab Saudi sudah secara bertahap kembali menuju normal.

Tiket pesawat tercetak pada Selasa, 12 April 2022 pukul 04.15 CAT.  Rif'an dan rombongan berangkat pukul 01.00 CAT dini hari menuju Bandara Khartoum. Sesampainya di sana terlihat bandara cukup renggang, tidak terlalu ramai.

Tidak banyak orang yang menggunakan masker, penerapan protokol kesehatan karena pandemi memang sudah lama dikendorkan oleh pemerintahan Sudan. Tapi untuk berjaga-jaga, Rif'an selalu sedia membawa masker. Kami langsung masuk dan melakukan cek in untuk mendapatkan tiket.

Passpor, kertas cetakan visa umroh, dan kartu kuning perjalanan Rif'an lampirkan. Tidak ada muatan bagasi yang Rif'an masukkan, semuanya di kabin, karena untuk umroh backpacker disarankan untuk tidak terlalu membawa banyak barang.

Mereka terbang pukul 04.30 CAT dan pukul 07.00 WAS mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Di hadapan mereka terbentang pemandangan megah dan mewah.

Mereka keluar dari pesawat lalu berjalan menggunakan semacam terowongan penghubung untuk masuk ke dalam bandara. Berbagai kerajinan dan hiasan unik memanjakan mata tersaji dalam perjalanan menuju gate selanjutnya.

Berbagai pemeriksaan mereka jalani. Mulai dari pemeriksaan visa masuk, barang bawaan, kelengkapan berkas perjalanan, dan berbagai hal yang memang  biasa dilakukan sedang mengantri pengecekan surat menyurat.

Terlihat bilik-bilik kosong berjajar rapi dan bersih sepanjang dinding bandara bagian pengecekan berkas. Tertulis pada masing-masing biliknya “PCR”, Rif'an pikir dahulu bilik-bilik itu pasti digunakan untuk melakukan PCR para penumpang bandara. Namun sekarang nampak kosong dan tak ada aktifitas di sana. Arab Saudi benar-benar menuju fase normalnya kembali.

2. Perjalanan ke Madinah

Sesampainya di tempat tujuan, mereka keluar dan langsung berjalan menuju Gate 9 untuk menunggu pesawat yang akan membawa mereka menuju Kota Madinah. Selama menunggu, mereka memanfaatkan fasilitas wifi gratis bandara.

Setelah menunggu selama kurang lebih enam jam, jadwal penerbangan menuju Madinah akhirnya datang juga. Satu jam perjalanan udara dilewati, alhamdulillah mereka bisa sampai ke Kota Nabi dengan selamat.

Melihat tulisan selamat datang di Kota Madinah membuat Rif'an sangat senang. Tak percaya kalau Rif'an sekarang sudah menginjakan kaki di Kota Rasul, kota impian Rif'an sejak kecil.

Ketika berjalan keluar bandara, seketika segerombolan orang menawari kendaraanya masing-masing untuk disewakan. Setelah memilah dan memilih kendaraan dan harga yang cocok, mereka berangkat menuju Universitas Islam Madinah (UIM). Biaya yang mereka keluarkan untuk menyewa kendaraan Hiace ini sebesar 100 real (Rp 400 ribu).

Rif'an dan rombongan berpisah. Mereka pergi menuju ke tempat penginapan yang sudah disediakan sebelumnya. Sedang Rif'an dan dua teman Rif'an putuskan untuk pergi menetap di asrama sahabat Rif'an di UIM.

Malam harinya mereka langsung diajak pergi mengunjungi Masjid Nabawi dengan menggunakan Bus Saptco (transportasi yang disediakan negara). Biaya yang dikeluarkan untuk pulang pergi adalah 6 real (Rp12 ribu) untuk setiap orangnya.

Setelah sekitar 10 menit perjalanan, mereka tiba di tempat tujuan yang perlu berjalan kaki lagi sekitar 10 menit untuk bisa sampai di Masjid Nabawi. Puas berjalan-jalan mengagumi setiap sudut Masjid Nabawi, mereka diajak menuju ke sebuah hotel.

Mereka diajak untuk bertemu dengan senior SMA yang sedang melaksanakan umroh. Sesampainya di hotel, mereka diajak untuk makan terlebih dahulu di sana. Rupanya selama mereka mendapatkan izin salah seorang dari jamaah umroh, mereka bisa mendapatkan makan gratis di sana.

Toh makanan yang disediakan memang sangat banyak dan selalu tersisa. Rupanya hal itu pula yang sering dilakukan oleh para mahasiswa di sini. Tanpa pikir panjang mereka sambut ajakan itu dengan gembira.

Hari-hari Rif'an selama berada di Kota Madinah Rif'an habiskan untuk berkeliling pada setiap sudut masjidnya. Mulai dari mengunjungi Raudah Nabi Muhammad, berkeliling di bawah payung khas Masjid Nabawi, shalat fardu dan Tarawih di dalam masjidnya, dan pengalaman lainnya yang ia lakukan sendiri ataupun bersama teman.

Oh ya, catatan buat teman-teman yang ingin melakukan perjalanan umroh ke Arab Saudi, pastikan teman-teman ketika sudah sampai langsung saja membeli kartu (HP) lokal, karena Rif'an merasakan betapa susahnya berjalan tanpa alat komunikasi.

3. Perjalanan ke Makkah

Di hari keempat, Rif'an dan rombongan putuskan pergi melanjutkan perjalanan menuju Makkah Al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah umroh. Setelah mereka memakai kain ihram dan mendapatkan pengarahan dari para senior di kampus Universitas Islam Madinah (UIM), mereka memutuskan berangkat pada pukul 00.30 WAS dengan menggunakan mobil Hiace menuju Makkah dengan biaya 480 real, atau 60 real setiap penumpangnya.

Tak disangka ternyata banyak sekali peraturan ketat yang berlaku di Arab Saudi ini. Sebagai informasi, mobil yang mereka sewa rupanya tidak memegang surat izin melewati Kota Mekkah.

Sebagaimana yang berlaku di sini, setiap pengendara yang hendak menuju Mekkah diwajibkan membawa surat izin melewati perbatasan kota. Hal ini dilakukan demi menertibkan arus perjalanan menuju dan dari Kota Mekkah. Walhasil, diputar-putarkanlah mereka di Kota Madinah.

Ketika ditanyakan kenapa, kata sang supir ingin meminjam surat izin melewati batas Kota Makkah milik temannya, namun sampai 30 menit menunggu dia belum juga memperolehnya. Beruntung di kendaraan yang sama ada salah seorang penumpang yang juga senior mahasiswa UIM.

Ia menekan sang supir untuk lekas membawa mereka ke Kota Makkah. Setelah ada sedikit perdebatan dengan sang supir, dipindahkanlah mereka ke kendaraan lain dengan biaya tambahan 20 real, jadi mereka berdelapan membayar 500 real kepada supir yang baru ini.

Sepanjang perjalanan mereka tertidur dan baru terbangun ketika ada pengecekan Tasrih Tawakalna (semacam aplikasi Peduli Lindungi) di perbatasan antar kota. Sebagai informasi, setiap orang yang hendak melaksanakan ibadah Umroh, diwajibkan untuk mendaftarkan dirinya di aplikasi tersebut.

Di dalamnya terdapat informasi mengenai jadwal padat atau tidaknya aktivitas umroh dan masuk Raudoh pada waktu-waktu tertentu. Tapi persyaratan ini tampaknya mulai diabaikan oleh petugas. Terbukti ketika mereka melewati pengecekan di perbatasan tidak ada permintaan petugas untuk pendaftaran itu, sehingga mereka dapat melewati perbatasan itu dengan mudah.

Setelah 20 menit perjalanan dari Madinah atau 11 kilometer darinya mereka berhenti di Masjid Biir Ali, Dzulkhulaifah untuk menunaikan shalat sunnah dua rakaat dan mengambil miqot niat umroh. Kemudian, Rif'an dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kota Mekkah yang berjarak sekitar 450 kilometer dari Masjid Bir Ali.

Rombongan sempat singgah untuk menyantap sahur dan menunaikan shalat Subuh. Sebelum sampai akhirnya tiba di Terminal Kudi bawah Masjidil Haram pada pukul 07.00 WAS. Pemandangan luar biasa dan tak terbayangankan sebelumnya terbentang di depan mata.

Zam-zam Tower yang menjulang tinggi dan Masjidil Haram yang sangat megah membuat Rif'an takjub tak ada habisnya. Semua barang bawaan yang mereka bawa ditinggalkan di tempat penitipan barang sebelah WC 3 Masjidil Haram.

Mereka masuk ke dalam masjid dan berjumpa dengan Kabah untuk menunaikan thawaf salah satu rukun ibadah Umrah. Setelah selesai menunaikan thawaf 7 putaran, Rif'an shalat dua rakaat di belakang Maqom Ibrahim.

Kemudian ia melanjutkan menunaikan Sai antara Sofa dan Marwa sebanyak tujuh kali. Setelah usai, ia memotong rambut untuk menyempurnakan ibadah umroh. Alhamdulillah, semua rangkaian tadi Rif'an tunaikan kurang lebih tiga jam.

Sekarang Rif'an dan rombongan tinggal di sebuah rumah sederhana di daerah Misfalah bagian Selatan Masjidil Haram. Dengan merogoh kantong 1.000 real untuk dua kamar dan satu kamar mandi selama 20 hari nampaknya sangat murah jika dibandingkan dengan tempat peninapan lainnya.

Terlebih Rif'an tinggal dengan rombongan berdelapan, jadilah setiap orang membayar sekitar 125 real (Rp 500 ribu). Rif'an sempat pergi ke Jeddah untuk menemui teman dengan menggunakan taksi dengan biaya 35 real (Rp 140 ribu).

Lalu Rif'an dan rombongan sempat pula pergi mengunjugi Jabal Nur dengan biaya 10 real (Rp 40 ribu) setiap orangnya. Ya karena dari awal mereka sudah memutuskan 'backpaker'-an untuk perjalanan ini, jadi mereka harus pintar-pintar mengatur pengeluaran untuk bisa berpergian kesana-kemari.

Itulah sedikit kilas perjalanan Rif'an selama ini. Sampai pada Selasa 3 Mei 2022, Rif'an

masih di Kota Makkah dan sudah menunaikan shalat Idul Fitri di Masjidil Haram.

Untuk kemudian Rif'an dan rombongan akan bertolak menuju Kota Madinah untuk menghabiskan waktu visa tinggal di sini yang kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Sudan pada Ahad, 08 Mei 2022.

Terkait


29 Calon Haji Pamekasan Batal ke Tanah Suci

Sejak Januari 2022, Sekitar 118 Ribu Jamaah Umrah Telah Bertolak ke Tanah Suci

Dosa yang Dilipatgandakan Jika Dilakukan di Tanah Suci Makkah Madinah 

Terpapar Covid, Tiga Jamaah Umroh Asal Jambi Dirawat di Wisma Atlet

Amphuh Akui Pelayanan Perjalanan Umroh Saat Pandemi tak Sempurna

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

[email protected]

Ikuti

× Image
Light Dark