Senin 25 Jul 2022 15:26 WIB

Baiat Aqabah, Awal Kisah Hijrah Nabi Muhammad

Nabi Muhammad hijrah setelah peristiwa baiat Aqabah.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
Baiat Aqabah, Awal Kisah Hijrah Nabi Muhammad. Foto:  Ilustrasi peristiwa hijrah.
Foto: republika.co.id
Baiat Aqabah, Awal Kisah Hijrah Nabi Muhammad. Foto: Ilustrasi peristiwa hijrah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Baiat Aqabah merupakan awal mula kisah hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Dalam buku Muharram bukan Bulan Hijrahnya Nabi tulisan Ahmad Zarkasih menjelaskan bahwa baiat atau perjanjian setia kepada Rasulullah yang terjadi di Aqabah inilah awal mula pergerakan massal hijrahnya para sahabat Nabi.

Peristiwa ini terjadi pada 12 Zulhijjah Tahun 13 setelah kenabian sebanyak 731 orang Yatsrib (sekarang Madinah) laki - laki dan 2 orang wanitanya, berkumpul di Mina. Mereka datang ke Makkah untuk ibadah bersama rombongan besar kamu musyrik khajraj dari Yastrib, tepatnya di Aqabah.

Baca Juga

Setelah mereka melaksanakan ritual haji , secara diam-diam untuk bertemu Nabi dan melakukan baiat. Kini disebut sebagai baiat al Qabah al kubra.

Namun berkumpulnya orang-orang Yastrib ini tidak diketahui oleh rombongan besarnya,  yakni rombongan kaum musyrik Khajraj yang melakukan ritual mengelilingi kakbah di masjidil haram. Mereka melakukan ini secara sembunyi- sembunyi sembari keluar dari rombongan kaum musyrik khajraj.

Kemudian Rasulullah di pertengahan malam bertemu dengan mereka ditemani oleh pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, yang ketika itu belum juga beragama Islam. Beliau mendampingi Nabi sebagai bentuk penjagaan kepada keponakannya tersebut. Walau dalam tekanan dan sembunyi-sembunyi, baiat itu pun akhirnya terjadi.

Terdapat lima perjanjian yang jadi materi baiat aqabah kubra ini, pertama, taat dan setia dalam perkara yang disenangi atau tidak disenangi. Kedua, untuk tetap berinfaq baik dalam keadaan luang atau sempit.

Ketiga, tetap melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Keempat, selalu berada di jalan Allah walau banyak orang yang mencela. Kelima, melindungi Nabi Muhammad ketika datang ke yatsrib sebagaimana mereka melindungi diri mereka, istri dan anak - anak mereka.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement