Rabu 10 Aug 2022 17:36 WIB

Karantina Pertanian Lampung Dorong Petani Kakao Penuhi Kualitas Ekspor

Banyak petani menjual kakao dengan proses asal sehingga harganya jadi relatif rendah.

Red: Fuji Pratiwi
Petani mengeringkan biji kakao yang telah difermentasi (ilustrasi). Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung mendorong agar para petani kakao atau cokelat di Kabupaten Lampung Timur dapat memenuhi kualitas ekspor dengan pengelolaan yang benar.
Foto: Antara/Fikri Yusuf
Petani mengeringkan biji kakao yang telah difermentasi (ilustrasi). Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung mendorong agar para petani kakao atau cokelat di Kabupaten Lampung Timur dapat memenuhi kualitas ekspor dengan pengelolaan yang benar.

REPUBLIKA.CO.ID, LAMPUNG TIMUR -- Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung mendorong agar para petani kakao atau cokelat di Kabupaten Lampung Timur dapat memenuhi kualitas ekspor dengan pengelolaan yang benar.

"Sekarang ini banyak petani menjual kakao dengan proses asalan sehingga harganya pun relatif rendah berbeda bila diolah dengan baik sebelum dijual," kata Sub Koordinator Karantina Tumbuhan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung, Irsan Nuhantoro, di Lampung Timur, Rabu (10/8/2022).

Baca Juga

Menurut dia, pasar ekspor pada komoditas kakao cukup terbuka lebar, terlebih kualitas coklat di Lampung Timur masuk dalam kategori bagus hanya saja memang kuantitasnya yang memenuhi syarat untuk diekspor masih rendah.

"Masih sedikit sekali petani kakao di sini melakukan pengelolaan memakai fermentasi dan penjemuran yang baik. Padahal permintaan luar negeri sudah ada sebanyak 50 ton per bulan tapi kalau satu dua tiga orang yang melakukannya tentu tidak akan terpenuhi kuantitasnya," ujar Irsan.

Oleh sebab itu, lanjut dia, Balai Karantina Pertanian mendorong petani kakao untuk menjadi eksportir melalui gerakan tiga kali lipat ekspor dengan membina mereka untuk memenuhi persyaratan dan kualitas yang diminta oleh negara tujuan.

"Permintaan 50 ton itu sangat memungkinkan terpenuhi, maka inilah yang kami dorong karena produksi sudah ada hanya perlu ditingkatkan kualitas juga sudah ada hanya tinggal menjaga dan memenuhi kuantitas," kata dia.

Ia pun mengatakan bahwa pihaknya memiliki klinik ekspor sehingga berapapun produk yang dihasilkan petani baik banyak ataupun sedikit tetap bisa diekspor asalkan kualitasnya dapat memenuhi persyaratan.

"Potensi kakao untuk diekspor cukup terbuka lebar, pada tahun 2022 ini Lampung baru melepas ekspor cokelat sebanyak 1.450 ton, padahal potensinya ratusan ribu ton. Sehingga dengan pelatihan pengelolaan kakao yang baik potensi ekspor cokelat dapat meningkat," kata Irsan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement