Hati-Hati, Suplemen Juga Punya Efek Samping, Ada yang Picu Obesitas

Periksa angka kecukupan gizi tiap suplemen yang dikonsumsi.

Republika/Reiny Dwinanda
Aneka jenis suplemen (Ilustrasi). Studi pada 2015 mengungkap, efek samping dari suplemen menyebabkan sekitar 23.000 warga Amerika Serikat harus dibawa ke layanan gawat darurat per tahunnya.
Rep: Adysha Citra Ramadani Red: Reiny Dwinanda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suplemen vitamin kerap diandalkan banyak orang untuk meningkatkan daya tahan tubuh di masa pandemi. Akan tetapi, suplemen vitamin juga memiliki efek samping tersendiri bila dikonsumsi secara berlebih, dan malahan ada yang bisa bikin obesitas.

"Mudah untuk menelan pil dan berpikir bahwa itu hanya vitamin atau mineral, tetapi lebih banyak tak selalu lebih baik," ujar Jo Cunningham BAc (Hons) RD FCCA dari The Gut Health Clinic, seperti dilansir Express, Kamis (17/2/2022).

Dalam mengonsumsi suplemen mikronutrien, Cunningham menganjurkan orang-orang tunuk selalu memeriksa angka kecukupan gizi (AKG) yang direkomendasikan. Hindari mengonsumsi suplemen mikronutrien dengan dosis di atas angka tersebut

"Mineral dan vitamin larut lemak dosis tinggi bisa menumpuk di dalam tubuh, menyebabkan toksisitas," jelas Cunningham.

Cunningham mengungkapkan, sering kali suplemen memiliki dosis yang lebih tinggi dari jumlah yang bisa didapatkan secara alami dari makanan. Serigkali suplemen seperti ini direkomendasikan dengan niat yang baik.

"Tapi terlalu sering saran diberikan tanpa didukung bukti ilmiah dan tanpa regulasi, itu bisa sangat berisiko," ungkap Cunningham.

Studi dalam The New England Journal of Medicine 2015 menemukan bahwa efek samping dari suplemen menyebabkan sekitar 23.000 warga Amerika Serikat harus dibawa ke layanan gawat darurat per tahunnya. Studi ini dilakukan selama lebih dari 10 tahun dan melibatkan 63 rumah sakit.

Studi lain dari Dalian University pada 2014 menemukan adanya kaitan antara konsumsi vitamin berlebih dengan obesitas. Studi yang dilakukan pada hewan tikus tersebut menemukan bahwa vitamin B berlebih bisa memicu penambahan berat badan.

"Termasuk meningkatkan sintesis lemak, menyebabkan resistensi insulin, mengganggu neurotransmitter metabolisme, dan mendorong perubahan epigenetik," jelas peneliti.

Baca Juga


Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa vitamin sintetis pertama kali digunakan oleh manusia pada era 1930-an. Sejak saat itu, konsumsi vitamin mengalami pertumbuhan yang sangat besar.

"Formula kaya vitamin dan makanan yang difortifikasi dengan vitamin mungkin, sebagian besarnya, bertanggung jawab atas peningkatan prevalensi obesitas selama beberapa dekade ke belakang," pungkas peneliti.

Kelebihan asupan vitamin D juga diketahui dapat membahayakan ginjal. Dosis vitamin D di atas 100 nanogram per milimeter bisa memicu nyeri otot, sakit perut, batu ginjal, dan gangguan suasana hati.

Asupan kalsium berlebih pun diketahui dapat membahayakan kesehatan. Peneliti mengungkapkan bahwa terlalu banyak asupan kalsium akan membuat kalsium menumpuk di arteri, bukan tulang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Berita Terpopuler