Sharon Stone Ungkit Kehilangan Hak Asuh Anak Akibat Jadi Pemeran Utama Basic Instinct
Sharon Stone merupakan pemeran utama Basic Instinct.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktris Hollywood Sharon Stone mengingat beban emosional yang dialaminya setelah menjadi pemeran utama film Basic Instinct pada 1992. Akibatnya, dia harus kehilangan hak asuh anak saat menghadapi persidangan perceraian.
Stone mengenang dampak buruk tersebut dalam sebuah episode podcast pekan ini dari Table for Two bersama Bruce Bozzi. Siniar ini dipersembahkan oleh iHeartMedia dan Air Mail.
"Saya kehilangan hak asuh atas anak saya," kata aktris berusia 64 tahun itu, seperti dikutip dari People, Rabu (8/3/2023).
Kala itu, hakim bertanya kepada anak laki-laki-nya yang masih kecil tentang peran Stone dalam film vulgar. Anaknya ditanya tentang keterlibatan Stone dalam film seks.
Pertanyaan itu, menurut Stone, seolah menyudutkan sehingga ia dianggap tidak layak menjadi orang tua karena terlibat dalam Basic Instinct. Ironisnya, menurut Stone, film-film yang menampilkan vulgarisme justru semakin lumrah dari tahun ke tahun hingga saat ini.
"Banyak orang muncul tanpa pakaian di TV, sekarang itu biasa, dan Anda melihat mungkin seperti seperenam belas detik dari kemungkinan ketelanjangan saya dan saya kehilangan hak asuh atas anak saya," kata Stone.
Stone memiliki anak bernama Quinn (16 tahun), Laird (17), dan Roan (22). Kehilangan hak asuh anaknya bukan hanya menyakiti hatinya, tetapi secara fisik. Pukulan itu juga mengganggu detak jantungnya.
"Saya berakhir di Mayo Clinic dengan detak jantung ekstra di bilik atas dan bawah jantung saya, itu menghancurkan hatiku," ujar dia.
Itu bukan pertama kalinya Stone berbicara tentang hal-hal sulit yang dialaminya akibat bermain di Basic Instinct. Dalam wawancara tahun lalu dengan majalah The New Yorker, dia juga mengenang dampak buruk bagi sineas lain. Dia menyebut film itu nyaris "merugikan semua orang".
"(Paul) Verhoeven (sutradara) berakhir di rumah sakit, sinusnya pecah, dan dia tidak bisa berhenti mimisan. Ada tekanan luar biasa pada set itu," kata Stone.
Stone menambahkan sekarang film vulgar justru kian lazim di indsutri perfilman. Kondisi ini jauh berbeda dengan zamannya saat itu.
Dulu, unsur seksualitas dalam film masih merupakan hal baru. Hal itu dianggap sebagai pelanggaran norma. Sebaliknya dengan sekarang, layanan streaming, seperti Netflix saja, dipenuhi dengan karya-karya yang tidak lepas dari unsur seksualitas.
"Semua itu termasuk hal-hal yang melanggar norma di zaman saya," ungkap dia.