Potensi Besar Industri Emas Indonesia Dibalik Lahirnya Bank Emas

Indonesia memiliki cadangan emas besar, namun belum dimanfaatkan secara maksimal.

ANTARA/Shutterstock/aa. (Shutterstock/Oleksan
Gagasan pembentukan bullion bank di Indonesia bermula dari keinginan untuk mengoptimalkan potensi emas. (ilustrasi)
Rep: Dian Fath Risalah Red: Gita Amanda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gagasan pembentukan bullion bank di Indonesia bermula dari keinginan untuk mengoptimalkan potensi emas sebagai instrumen investasi yang aman dan stabil. Tahun 2024 lalu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan Indonesia memiliki cadangan emas yang besar, namun selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

PT Pegadaian, contohnya, saat ini menyimpan stok emas sebanyak 70 ton. Namun, stok emas ini hanya dicatat sebagai tonase tanpa dimasukkan ke dalam neraca keuangan bank. “Di negara lain seperti Singapura, emas sudah dimasukkan ke dalam neraca bank sehingga memberikan nilai tambah,” kata Airlangga dalam acara Indonesia SEZ Business Forum 2024.

Pemerintah akan meresmikan bank emas atau bullion bank pada 26 Februari 2025. Bank Emas ini nantinya akan menyimpan hasil produksi emas batangan dalam negeri. Keberadaan bullion bank diharapkan dapat mengubah pola bisnis emas di Indonesia. Selama ini, industri perhiasan domestik sering kali mengolah emas di luar negeri, seperti Singapura, hanya untuk kemudian dikembalikan ke Indonesia. Pola ini justru membuat Indonesia kehilangan nilai tambah dari pengolahan emasnya. Dengan adanya bullion bank, Indonesia diharapkan bisa memperbaiki situasi ini.

Bullion bank dinilai mampu menjadi katalis dalam mendukung industri manufaktur lokal sekaligus menarik investasi asing ke Indonesia. Airlangga mencontohkan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, yang memberikan kontribusi penting dalam mendorong hilirisasi tembaga hingga menghasilkan emas.

Hilirisasi KEK Gresik menghasilkan hingga 60 ton emas per tahun. "Jadi kali ini untuk pertama kalinya, 60 ton emas bisa diproduksi di Gresik," ucap Airlangga. 

OJK keluarkan aturan

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap anggota dewan komisioner OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa bullion bank memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan ekosistem emas dari hulu hingga hilir. Kegiatan usaha bullion meliputi berbagai aktivitas yang berkaitan dengan emas, seperti simpanan emas, pembiayaan emas, perdagangan emas, penitipan emas, dan kegiatan lainnya yang dilakukan oleh lembaga jasa keuangan.

“Usaha bullion dapat memenuhi berbagai kebutuhan berbasis emas, mulai dari simpanan, penitipan, pembiayaan, hingga perdagangan emas,” kata Dian.

OJK melihat potensi bisnis pada produk emas masih sangat besar, mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen besar emas di dunia. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, OJK telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bullion. Penerbitan POJK ini merupakan tindak lanjut dari amanah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Kegiatan usaha bullion dapat meningkatkan peranan industri perbankan untuk berkontribusi pada pengembangan sektor industri pengolahan emas dan turunannya. Melalui penerbitan POJK tersebut, para pelaku perbankan dan lembaga jasa keuangan (LJK) lainnya dapat menjembatani ketersediaan dan permintaan (supply and demand) terhadap kebutuhan emas, termasuk monetisasi emas yang masih kurang optimal di masyarakat. Hal ini dapat menjadi peluang memperbesar aset dan meningkatkan kinerja perbankan dengan tetap senantiasa memperhatikan pemenuhan terhadap aspek kehati-hatian.

BSI dan BRI siap jadi bullion bank

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengungkapkan kesiapan mereka untuk menjadi bullion bank, langkah strategis yang diharapkan dapat memperkuat pengelolaan dan ekosistem bisnis emas nasional. Dalam rencana pengembangan ini, BSI optimistis dapat memanfaatkan peluang besar di sektor emas dengan menjadi salah satu dari dua bullion bank di Indonesia. 

“Produk-produk baru, khususnya emas, menjadi game changer bagi kami. Untuk 2025, BSI semakin optimistis karena kami sedang dalam proses pengajuan lisensi untuk menjadi bullion bank, dan kami bersyukur bisa menjadi salah satu bank yang dipilih oleh pemerintah,” ujar Direktur Keuangan dan Strategi BSI, Ade Cahyo Nugroho.

Untuk mendukung pengajuan lisensi tersebut, Direktur Kepatuhan dan Sumber Daya Manusia BSI Tri Buana Tunggadewi mengungkapkan, perizinan untuk menjadi bullion bank telah diajukan ke OJK. BSI juga sudah mempersiapkan infrastrukturnya secara paralel.

“Terkait dengan perizinan, BSI memang sudah mengajukan perizinan ke OJK. Di samping itu juga secara paralel kami menyiapkan semua infrastrukturnya, agar nanti pada saat perizinan itu terbit, kita semua sudah siap dengan infrastruktur. Diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama mungkin bisa diterbitkan perizinannya dari OJK,” jelas Tri Buana Tunggadewi.

Seperti BSI, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga diajukan sebagai bullion bank. Sebagai bagian dari holding BRI, Pegadaian, akan menjadi bullion bank atau bank emas. Namun, karena emas dikategorikan sebagai komoditas, bisnis ini tidak berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melainkan tunduk pada aturan Menteri Perdagangan.  

“Dalam perjalanannya, sebenarnya makin dekat istilahnya, terjadi overlapping antara perdagangan dengan jasa keuangan. Karena emas sendiri kan bisa jadi alat bayar juga,” ujar Sunarso.

Menurut Sunarso, bullion bank memiliki cakupan bisnis yang luas, termasuk produksi emas, layanan tabungan emas serta deposito emas. “Jadi, orang bisa mendepositokan emasnya. Di sisi asetnya, maka kemudian bullion bank ini juga bisa memberikan kredit emas. Jadi, orang itu kredit tapi tidak dalam bentuk uang, melainkan dalam bentuk emas. Saya mau kredit emas 1 kg, 2 kg, 3 kg, dan seterusnya. Ya, mungkin beberapa gram juga bisa untuk ritel,” jelasnya.  

Dengan layanan ini, masyarakat tidak hanya bisa menyimpan emas dalam bentuk tabungan, tetapi juga dalam bentuk deposito. Ia pun memberikan contoh, semisal seseorang punya emas 20 gram, bisa didepositokan. "Bisa juga dalam bentuk tabungan emas. Kalau tabungan emas kan sekarang sudah ada,” ujarnya.

Selain itu, bullion bank juga akan melayani jual beli emas dan memberikan pilihan investasi yang lebih aman dan fleksibel bagi nasabah. 

Mengurangi impor emas

Pegadaian terus memperkuat layanan deposito emas sebagai langkah awal menuju pembentukan bullion bank di Indonesia. Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan menyatakan, layanan ini telah resmi berjalan sejak 1 Januari 2025, setelah mendapat izin dari regulator pada 22 Desember 2024.  

"Alhamdulillah, sudah banyak yang mendepositokan emasnya. Kami sudah mulai menjalankan layanan deposito emas, baik secara langsung maupun melalui Pegadaian Digital Service. Sekarang, nasabah bisa langsung mendepositokan emasnya secara digital," kata Damar.

Lebih lanjut, ia merinci Pegadaian menawarkan empat layanan utama terkait emas, yakni simpanan emas (termasuk deposito emas), trading emas, pemanfaatan emas dalam skema B2B dan B2C, serta layanan gadai dan pinjaman berbasis emas. Dalam skema pinjam-meminjam emas, nasabah yang memiliki emas dapat mendepositokannya, lalu emas tersebut bisa dipinjam oleh pihak yang membutuhkan, misalnya untuk produksi emas batangan. "Sistemnya pinjam emas, kembalinya juga emas," jelas Damar.  

Menurutnya, skema ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor emas. Sebab, perusahaan emas besar di Indonesia selama ini lebih banyak mengekspor emasnya. Dengan sistem ini, juga bisa memanfaatkan emas yang sudah beredar di dalam negeri, termasuk dari scrap emas atau emas hasil daur ulang.  

Damar menambahkan, cukup dengan 5 gram emas, masyarakat sudah bisa mendepositokan emasnya di Pegadaian. Ke depan, Pegadaian akan terus memaksimalkan potensi deposito emas sebagai pondasi awal pembentukan bullion bank di Indonesia. 

Potensi emas global

Di tingkat global, tren permintaan dan pasokan emas juga mengalami perkembangan signifikan. Hal ini diungkapkan oleh Head of Asia-Pacific (eks-China) & Global Head of Central Banks di World Gold Council Shaokai Fan dalam Seminar Bullion Financial Services in Indonesia: Opportunities and Challenge.  

Menurut Shaokai, harga emas terus mencetak rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, harga emas naik hampir 30 persen dalam dolar AS, dan saat ini telah menyentuh 2.500 dolar AS per ons. "Secara global, permintaan emas mencapai hampir 5.000 ton pada tahun lalu, tertinggi sepanjang sejarah," ungkapnya.  

Permintaan terbesar berasal dari sektor investasi dan perhiasan, sementara bank sentral juga menjadi pembeli emas dalam jumlah besar. Di Asia Tenggara, Indonesia memiliki potensi pasar emas yang besar, sebanding dengan Thailand dan Vietnam.  

Shaokai menilai, pembentukan bullion bank dan Dewan Emas Indonesia akan menjadi langkah strategis untuk mengembangkan ekosistem emas nasional, sebagaimana telah diterapkan di Turki, Singapura, dan Malaysia. "Bullion bank bisa menjadi solusi bagi Indonesia untuk mengoptimalkan emas dalam sistem keuangan, mengurangi impor, serta meningkatkan transparansi pasar emas," kata dia. 

Selain Indonesia, beberapa negara lain juga memiliki bullion bank. Beberapa di antaranya adalah:



- Swiss: Swiss dikenal sebagai pusat keuangan global dan memiliki beberapa bullion bank terkemuka, seperti Credit Suisse dan UBS.
- Amerika Serikat: AS juga memiliki beberapa bullion bank besar, seperti JP Morgan.
- Inggris: Inggris, khususnya London, memiliki sejarah panjang dalam perdagangan emas dan memiliki beberapa bullion bank, seperti HSBC.
- Kanada: Kanada memiliki beberapa bank yang menawarkan layanan bullion banking, seperti Scotia Bank.
- China: China, sebagai salah satu produsen dan konsumen emas terbesar di dunia, juga memiliki bullion bank, seperti ICBC.

Selain negara-negara di atas, ada juga negara lain yang memiliki bullion bank, terutama negara-negara yang memiliki pasar emas yang besar atau sejarah panjang dalam perdagangan emas. Penting untuk dicatat bahwa tidak semua bank di setiap negara menawarkan layanan bullion banking. Layanan ini biasanya disediakan oleh bank-bank besar yang memiliki keahlian dan infrastruktur yang diperlukan untuk menangani transaksi logam mulia.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Berita Terpopuler