Persahabatan, Pemikiran, dan Perjuangan H. O. S. Tjokroaminoto dan Agus Salim dalam Sarekat Islam
Agus Salim Tjokroaminoto: Dua pemikir, satu perjuangan. Dari penyelidikan ke persatuan, mereka membangun fondasi gerakan kemerdekaan Indonesia.
Pertemuan Tjokroaminoto dan Agus Salim: Awal Perjuangan Bersama
Pertemuan antara H. O. S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim adalah awal dari perjalanan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perkenalan ini tidak terjadi secara kebetulan. Deliar Noer mencatat bahwa Agus Salim, yang pada saat itu sedang berkomunikasi dengan seorang anggota polisi kolonial, diminta untuk menyelidiki Tjokroaminoto.
Tuduhan terhadap Tjokroaminoto, seperti “menjual Sarekat Islam kepada Jerman” untuk 150.000 gulden, tidak menggoyahkan Agus Salim. Sebaliknya, hal ini membangkitkan rasa ingin tahunya terhadap Sarekat Islam (SI) dan sosok pemimpinnya, yang dikenal sebagai “Raja Jawa Tanpa Mahkota.”
Agus Salim memulai penyelidikan untuk memahami lebih jauh tentang organisasi ini. Perjalanannya ke Surabaya mengungkapkan pandangan yang mendalam tentang Tjokroaminoto sebagai pemimpin yang mampu menggerakkan ribuan orang dengan visi dan keteraturan.
Selama tujuh minggu, keduanya menjalin hubungan yang mendalam. Sepulangnya ia ke Batavia, Agus Salim memilih untuk tidak memberikan informasi apa pun kepada polisi mengenai hasil penyelidikannya.
Bahkan, Agus Salim menolak penggantian biaya perjalanannya. Keputusan ini menandai perubahan signifikan dalam hidupnya, yang akhirnya mendorongnya untuk bergabung dengan Sarekat Islam.
Salim mengakui bahwa perkenalannya dengan SI adalah salah satu momen yang mengubah hidupnya. Dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim, ia berkata, “Jika bukan karena Belanda, mungkin saya tidak pernah mendengar atau melihat organisasi seperti SI.” Hubungan antara Tjokroaminoto dan Agus Salim kemudian berkembang menjadi kolaborasi erat dalam memimpin Sarekat Islam dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda.
Pengaruh Pemikiran Islam dan Sosialisme Tjokroaminoto terhadap Agus Salim
H. O. S. Tjokroaminoto tidak hanya seorang pemimpin organisasi, tetapi juga seorang pemikir yang memiliki pandangan mendalam tentang hubungan Islam dan sosialisme. Dalam pandangannya, sosialisme bukanlah konsep baru. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai sosialisme telah berkembang selama lebih dari 13 abad, sejak masa Nabi Muhammad ﷺ.
Tjokroaminoto menjelaskan bahwa di bawah pemerintahan Islam, tanah dimiliki oleh negara dan dikelola secara sosialistis untuk memastikan kesejahteraan rakyat. Cara Nabi ﷺ memimpin negara mencerminkan nilai-nilai sosialisme yang mengutamakan pemerataan dan keadilan sosial.
Pemikiran ini memberikan pengaruh mendalam terhadap pandangan H. Agus Salim. Sebagai seorang intelektual yang terdidik di Belanda dan mendalami ilmu agama di bawah bimbingan Syekh Ahmad Khatib di Mekah, Agus Salim memiliki kemampuan unik untuk mengintegrasikan pemikiran Barat dengan nilai-nilai Islam.
Ia mengembangkan gagasan bahwa Islam dan Barat dapat berkolaborasi untuk menghadapi tantangan modern. Melalui pendekatan rasional dan perbandingan, Agus Salim menunjukkan kesamaan dan perbedaan antara pandangan Islam dan pemikiran tokoh-tokoh, seperti Hasan Al-Bannah, Sayyid Qutb, dan Tan Malaka.
Agus Salim melihat Islam sebagai landasan kebangkitan bangsa Indonesia. Ia menekankan pentingnya mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks perjuangan kemerdekaan, Agus Salim mendukung Pancasila, khususnya sila pertama, sebagai landasan negara yang mencerminkan nilai-nilai Islami. Menurutnya, pengabdian kepada Allah ﷻ harus disertai dengan nasionalisme yang Islami dan doktrin kemanusiaan.
Peran Agus Salim dalam Sarekat Islam
Setelah bergabung dengan Sarekat Islam pada tahun 1915, Agus Salim mulai menunjukkan pengaruhnya dalam organisasi tersebut. Pada tahun 1919, ia secara resmi diangkat sebagai Komisaris Pusat Sarekat Islam (CSI), sebuah momen penting dalam karier politiknya. Tjokroaminoto, yang melihat potensi besar dalam diri Agus Salim, memberikan kepercayaan penuh kepadanya untuk melanjutkan semangat perjuangan Sarekat Islam.
Selama dua dekade berikutnya, Agus Salim memainkan peran penting dalam evolusi SI menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Sebagai Ketua Umum Kongres PSII pada tahun 1935, Agus Salim terus mendorong agenda kemerdekaan Indonesia, bahkan ketika kesehatannya mulai menurun setelah wafatnya Tjokroaminoto. Dedikasinya terhadap perjuangan tidak pernah surut, yang menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Warisan Pemikiran dan Perjuangan Bersama
Kolaborasi antara Tjokroaminoto dan Agus Salim tidak hanya memperkuat Sarekat Islam, tetapi juga meletakkan dasar bagi gerakan nasional yang lebih luas. Tjokroaminoto memberikan fondasi ideologis melalui konsep Islam dan sosialisme, sementara Agus Salim mengembangkan gagasan tersebut dengan pendekatan intelektual dan diplomasi yang kuat. Bersama-sama, mereka berhasil membuahkan gerakan yang tidak hanya berjuang untuk melawan penjajahan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya persatuan dan keadilan sosial.
Warisan perjuangan mereka tetap relevan hingga saat ini, terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk selalu memperjuangkan nilai-nilai keadilan, persatuan, dan kemerdekaan. Dedikasi mereka dalam membangun bangsa menunjukkan bahwa perjuangan sejati membutuhkan keberanian, visi, dan integritas yang kokoh.
Kesimpulan
Pertemuan antara H. O. S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim adalah tonggak penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Keduanya tidak hanya bekerja bersama untuk membangun Sarekat Islam, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan sosialisme sebagai landasan gerakan nasional. Warisan mereka adalah bukti nyata bahwa kerja sama, pemikiran mendalam, dan dedikasi dapat membawa perubahan besar dalam sejarah suatu bangsa.