Penjelasan Ilmiah Mengapa Gempa Myanmar Punya Daya Rusak Begitu Hebat

USGS mencatat Myanmar diguncang dua kali gempa berkekuatan magnitudo 7,7 dan 6,4.

AP Photo/Aung Shine Oo
Seorang biksu Buddha berjalan di dekat bangunan yang rusak di kompleks biara pasca gempa bumi, Jumat, 28 Maret 2025 di Naypyitaw, Myanmar.
Red: Andri Saubani

REPUBLIKA.CO.ID, NAPYIDAW --  Pemimpin junta Min Aung Hlaing, mengumumkan jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Sagaing, Myanmar, Jumat (29/5/2025), melonjak menjadi 144 dan sedikitnya 732 orang terluka. Melihat skala gempa dari dua kali gempa secara berturut, jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah.

Baca Juga


“Peningkatan jumlah kematian dan jumlah korban luka diperkirakan masih akan terjadi. Bangunan-bangun runtuh di banyak tempat, jadi kami masih melakukan operasi penyelamatan di gedung-gedung ini,” kata Min Aung Hlaing dalam pidatonya kepada rakyat Myanmar.

Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Myanmar bagian tengah pada Jumat sekitar pukul 12.50 waktu setempat. Getaran gempa juga terasa hingga ke negara tetangga Thailand dan China. Menurut laporan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), terjadi gempa susulan berkekuatan 6,4 magnitudo setelah 12 menit gempa pertama.

 

Dikutip dari Live Science, gempa terjadi di Patahan Sagaing, yang melintang dari utara ke selatan dengan panjang hampir 1.600 kilometer melintasi Myanmar menuju Laut Andaman. Menurut USGS, gempa yang muncul di patahan ini dikenal sebagai tipe gempa memukul-tergelincir, yang mana satu blok dari sebuah belahan bumi bergeser secara horizontal. Pergerakan ini mirip dengan Patahan San Andreas di California, Amerika Serikat.

"Myanmar, yang hanya berada di sebelah selatan pegunungan Himalaya, adalah sebuah wilayah seismik aktif dan dikenal dengan gempa-gempa besarnya," profesor geologi dari Universitas Michigan, Ben van der Pluijm, kepada Live Science.

"Alasan untuk itu adalah bahwa daratan India berada di atas Patahan India. Dan Patahan India telah bergerak ke arah utara selama 100 juta tahun," kata Van der Pluijm, menambahkan.

 

 

Menurut Van der Pliujm, sekitar 40 juta tahun lalu, India terhubung dengan Patahan Eurasian dan terus bergerak menuju Patahan Eurasian. Tabrakan antara dua patahan itu yang kemudian membentuk pegunungan Himalaya.

Bahkan hingga hari ini, Patahan India masih terus bergerak. "Gerakan itu mengakumulasikan energi yang kemudian dilepas menjadi gempa bumi seperti yang terjadi saat ini di Asia bagian tenggara," kata Van der Pluijm.

Gempa yang terjadi pada Jumat sangat besar hingga berkekuatan magnitudo 7,7, sehingga kata Van der Pluijm, tidak mengherankan terjadi pergeseran tanah secara horizontal sejauh beberapa meter. Karena termasuk dalam gempa dangkal hanya sekitar 10 kilometer, gempa Myanmar dapat dibandingkan dengan dua gempa dahsyat yang mengguncang Turki pada 2023 dan mengakibatkan banyaknya korban jiwa dan kerusakan.

"Kita bisa memperkirakan laporan kerusakan dan jumlah korban jiwa yang sama karena itu adalah gempa dangkal dan terjadi di daerah padat penduduk di Myanmar," kata profesor ahli kegempaan dari Universitas Yale, Jeffrey Park.

Merujuk data USGS, sejak 1900, di wilayah Myanmar telah terjadi enam kali gempa berkekuatan magnitudo 7 atau lebih. Yang paling terakhir gempa magnitudo 7 terjadi pada Januari 1990, mengakibatkan 32 bangunan runtuh.

 

Ahli kegempaan dari University College of London, Bill McGuire dikutip Independent mengatakan, meski wilayah Sagaing sudah pernah diguncang oleh beberapa gempa beberapa tahun terakhir, termasuk gempa berkekuatan 6,8 magnitudo pada 2012, gempa yang mengguncang daratan Myanmar pada Jumat "mungkin yang terbesar" dalam 75 tahun terakhir.

Adapun, peneliti British Geological Survey, Roger Musson mengatakan, makin dangkalnya pusat gempa berarti kerusakan yang ditimbulkan akan makin parah. Gempa Myanmar pada Jumat sangat merusak karena terbilang gempa dangkal sehingga guncangan dari pusat gempa ke permukaan tanah tidak teredam, bangunan-bangunan langsung menerima arus kekuatan guncangan secara penuh.

"Penting untuk tidak terfokus pada episenter karena gelombang seismik tidak teradiasi keluar dari episenter, tapi mereka teradiasi keluar melalui garis patahan," kata Musson.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Berita Terpopuler