Saksi: Paramedis Palestina Dieksekusi Mati Israel, Tangannya Diikat, Ditembak di Kepala

Keterangan saksi menunjukkan kejahatan serius yang dilakukan oleh Israel.

AP Photo/Majdi Mohammed
Seorang paramedis Palestina menunjukkan rompi antipelurunya kepada anggota pasukan Israel yang ada dalam kendaraan lapis bajam saat operasi militer di kota Jenin, Tepi Barat, Rabu (28/8/2024). Bentrokan dengan militer Israel di Tepi Barat meningkat tajam sejak dimulainya perang Israel-Hamas di Gaza.
Red: Teguh Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, JALUR GAZA -- Beberapa dari 15 jenazah paramedis dan petugas penyelamat Palestina, yang dibunuh oleh pasukan Israel dan dikuburkan di kuburan massal sembilan hari lalu di Gaza, ditemukan dengan tangan atau kaki terikat dan mengalami luka tembak di kepala dan dada. Demikian menurut laporkan dua saksi mata.

Baca Juga


Keterangan saksi menambah bukti kejahatan perang serius yang dilakukan Israel pada 23 Maret. Ketika itu kru ambulans Bulan Sabit Merah Palestina dan petugas penyelamat pertahanan sipil dikirim ke lokasi serangan udara pada dini hari di distrik al-Hashashin di Rafah, kota paling selatan di Gaza.

Tim kemanusiaan internasional baru diizinkan masuk ke lokasi tersebut akhir pekan ini. Satu jenazah ditemukan pada Sabtu. Empat belas jenazah lainnya ditemukan di kuburan berpasir di lokasi tersebut pada Ahad dan dibawa kembali untuk diautopsi di kota terdekat Khan Younis.

Dr Ahmed al-Farra, seorang dokter senior di kompleks medis Nasser di Khan Younis, menyaksikan kedatangan beberapa jenazah.

"Saya melihat tiga mayat saat mereka dipindahkan ke rumah sakit Nasser. Ada peluru di dada dan kepala mereka. Mereka dieksekusi. Tangan mereka diikat,'' kata Farra.

"Mereka mengikat mereka sehingga mereka tidak bisa bergerak dan kemudian membunuh mereka."

Ia memberikan foto-foto yang katanya diambilnya dari salah satu korban tewas saat tiba di rumah sakit. Foto-foto tersebut memperlihatkan tangan di ujung kemeja hitam lengan panjang dengan tali hitam yang diikatkan di pergelangan tangan.

Saksi lain, seorang pejabat dari badan bantuan internasional yang ikut serta dalam evakuasi jenazah dari Rafah pada Ahad, juga mengatakan mereka melihat bukti bahwa salah satu korban tewas ditembak setelah ditahan.

“Saya melihat mayat-mayat itu dengan mata kepala saya sendiri ketika kami menemukannya di kuburan massal,” ujar saksi yang tidak ingin namanya disebutkan demi keselamatannya sendiri itu mengatakan kepada Guardian dalam sebuah wawancara telepon.

“Mereka menunjukkan tanda-tanda beberapa tembakan di dada. Salah satu dari mereka kakinya diikat. Yang lain ditembak di kepala. Mereka dieksekusi.”

Laporan tersebut memperkuat tuduhan yang dibuat oleh pejabat senior Bulan Sabit Merah Palestina, Pertahanan Sipil Palestina, dan Kementerian Kesehatan Gaza bahwa beberapa korban ditembak setelah ditahan dan diborgol oleh pasukan Israel.

 

Insiden itu terjadi setelah otoritas Israel mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua bulan dan melanjutkan kampanye militernya terhadap Hamas dan kelompok militan lainnya di Gaza pada 17 Maret. Zionis melancarkan pengeboman udara dan operasi darat. Warga Rafah diperintahkan untuk meninggalkan kota itu pada Senin, sebelum operasi darat Israel dimulai di sana.

Pengadilan pidana internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan atas kejahatan perang pada November terhadap perdana menteri, Benjamin Netanyahu, dan mantan menteri pertahanannya Yoav Gallant. Jaksa ICC mengatakan bahwa dia masih menyelidiki pasukan Israel dan Hamas atas dugaan kekejaman.

Para korban diyakini telah tewas pada 23 Maret, dua di antaranya pada dini hari ketika ambulans yang mereka tumpangi diserang Israel saat dalam perjalanan untuk menjemput orang-orang yang terluka akibat serangan udara sebelumnya.

Ke-13 korban tewas lainnya berada dalam konvoi ambulans dan kendaraan pertahanan sipil yang dikirim untuk mengevakuasi jenazah kedua rekannya. Salah satu korban tewas adalah karyawan PBB. Sementara seorang paramedis Bulan Sabit Merah, bernama Assad al-Nassasra, masih hilang.

PBB mengatakan ambulans dan kendaraan lainnya dikubur di pasir oleh buldoser di samping jenazah korban tewas, yang tampaknya merupakan upaya untuk menutupi pembunuhan tersebut.

Rekaman video PBB yang diambil oleh tim evakuasi menunjukkan kendaraan PBB yang hancur, ambulans, dan truk pemadam kebakaran yang telah diratakan dan dikubur di pasir oleh militer Israel.

“Ini pukulan telak bagi kami … Orang-orang ini ditembak,” kata Jens Laerke, juru bicara kantor koordinasi bantuan PBB, pada Selasa.

“Biasanya kami tidak kehabisan kata-kata dan kami adalah juru bicara, tetapi terkadang kami kesulitan menemukan mereka. Ini salah satu kasus seperti itu.”

Militer Israel mengatakan bahwa 'penilaian awal' atas insiden tersebut menemukan bahwa pasukannya telah menembaki beberapa kendaraan yang bergerak mencurigakan ke arah pasukan IDF tanpa lampu depan atau sinyal darurat. Israel mengeklaim, sejauh ini tanpa bukti, bahwa pejuang Hamas dan militan lainnya telah menggunakan ambulans untuk berlindung.

Pasukan Pertahanan Israel sejauh ini belum menanggapi pertanyaan tentang laporan bahwa jenazah dan kendaraan paramedis telah dikubur atau tuduhan bahwa beberapa telah ditembak setelah ditahan.

Dr Bashar Murad, direktur program kesehatan Bulan Sabit Merah di Gaza, mengatakan setidaknya satu dari jenazah paramedis yang ditemukan tangannya diikat, dan salah satu paramedis sedang menelepon petugas ambulans ketika serangan itu terjadi.

Pada panggilan itu, Murad mengatakan, tembakan dari jarak dekat dapat terdengar serta suara tentara Israel di tempat kejadian berbicara dalam bahasa Ibrani, memerintahkan penahanan setidaknya beberapa paramedis.

“Tembakan dilepaskan dari jarak dekat. Suara itu dapat didengar pada panggilan antara petugas sinyal dan kru medis yang selamat dan menelepon pusat ambulans untuk meminta bantuan. Suara tentara terdengar jelas dalam bahasa Ibrani dan sangat dekat, serta suara tembakan.”

“Kumpulkan mereka di dinding dan bawa beberapa alat pengikat untuk mengikat mereka,” adalah salah satu kalimat yang menurut Murad dapat didengar oleh petugas. Dia mengatakan panggilan itu tidak direkam.

Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, mengatakan mayat-mayat itu ditemukan dengan sedikitnya sekitar 20 tembakan di masing-masing mayat dan mengonfirmasi bahwa sedikitnya satu dari mereka kakinya diikat.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Senin, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan, paramedis itu dieksekusi, beberapa dari mereka diborgol dan mengalami cedera kepala dan dada. Mereka dikubur di lubang yang dalam untuk mencegah identitas mereka diidentifikasi.

Presiden Bulan Sabit Merah Palestina, Dr. Younis al-Khatib, mengatakan bahwa IDF telah menghalangi pengumpulan jenazah selama beberapa hari. IDF mengatakan bahwa mereka telah memfasilitasi evakuasi jenazah segera setelah 'keadaan operasional' memungkinkan.

"Jenazah-jenazah tersebut sulit ditemukan karena terkubur di pasir, dengan beberapa menunjukkan tanda-tanda pembusukan," kata Bulan Sabit Merah.

Pemakaman mereka telah ditunda sambil menunggu otopsi di rumah sakit Nasser di Khan Younis. Menurut sumber-sumber rumah sakit, otopsi kini telah dilakukan dan laporan lengkap akan disampaikan ke kementerian kesehatan Gaza dalam waktu 10 hari.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Berita Terpopuler