5 Cara Memilih Teman Menurut Imam Ghazali

Memilih teman tidak boleh sembarangan agar tak terjerumus maksiat.

www.freepik.com
ILUSTRASI Memilih teman
Red: Hasanul Rizqa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memilih teman tidak boleh sembarangan. Sebab boleh jadi, teman bisa mengarahkan kita kepada kebaikan atau justru menjerumuskan ke dalam kemaksiatan.

Baca Juga


Maka dalam hal ini, kaum Muslimin mesti meneladan Nabi Muhammad SAW. Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menegaskan, Islam memiliki koridor untuk diikui umat dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk memilih teman atau sahabat.

Imam al-Ghazali mengingatkan, jangan bersahabat dengan orang yang tidak layak dijadikan sahabat. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW, "Al-mar'u aladdini khalilihi, falyanzhur ahadukum man yukhaalilu."

Artinya, "Seseorang itu mengikut agama (cara hidup) sahabatnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang melihat terlebih dahulu siapakah yang patut dijadikan sahabat."

Imam al-Ghazali kemudian menjabarkan, cara dalam menimbang dan memilih teman dari berbagai sisi. Ia menyarikan lima poin di antaranya.

1. Dari sisi ilmu. Imam Ghazali berpendapat, tidak ada kebaikan (keuntungan) jika bersahabat dengan orang yang bodoh. Sebab, nantinya bisa bermuara kepada pertengkaran dan permusuhan hati sebab tindak tanduknya tidak disertai ilmu.

Kebodohan ini tak berarti 'tidak pintar' dalam artian kognitif, melainkan kecenderungan untuk menolak kebenaran. Seperti halnya Abu Jahal ('Bapak Kebodohan') pada zaman Nabi SAW disebut demikian oleh beliau lantaran tokoh Quraisy itu sudah mengetahui bahwa risalah Islam adalah kebenaran dan perbuatan-syirik adalah kebatilan, tetapi ia tetap pada kekafiran hanya karena ego kesukuan;

2. Orang yang baik akhlaknya. Ini sudah jelas dalam Islam, bagaimana akhlak menjadi yang begitu penting;

3. Berkawan dengan orang yang saleh;

4. Bersahabat dengan orang yang benar; dan

5. Jangan bersahabat dengan orang yang tamak dunia.

Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Perumpamaan kawan yang baik dan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau terkena wangi harum darinya. Sementara (dengan) pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau engkau memperoleh bau yang buruk.”

Sekurang-kurangnya, ada dua kemungkinan kalau bersahabat dengan teman yang baik, yakni diri sendiri akan ikut menjadi baik atau mendapati kebaikan dari sang sahabat.

Oleh karena itu, apabila dalam hati sudah ada keinginan untuk menjadi seorang Muslim yang bertakwa, janganlah keliru dalam memilih sahabat.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Berita Terpopuler