Sabtu 25 Sep 2010 05:49 WIB

AS Eksekusi Mati Tahanan Perempuan

Rep: una/ Red: Krisman Purwoko
Teresa Lewis
Foto: AP
Teresa Lewis

REPUBLIKA.CO.ID,JARRATT--Teresa Lewis menjadi perempuan pertama yang dieksekusi mati di Amerika Serikat dalam lima tahun terakhir. Perempuan asal Vancouver ini menghadapi kematian dengan suntik mati karena pembunuhan terencana untuk tujuan uang asuransi.

Menghadapi hari-hari terakhir kehidupannya, ia terlihat tenang, menghabiskan waktu dengan berdoa dan meminta pengampunan. Ia membunuh dua pria, suami serta anak tirinya untuk klaim polis asuransi senilai 250 ribu dolar. Perempuan yang saat menjalani hukuman mati berusia 41 tahun itu meminta maaf kepada keluarga suaminya serta anak tiri lainnya yang masih hidup.

Dia adalah wanita pertama di Virginia sejak 1912 yang menghadapi dihukum mati. Para pendukung dan keluarga korban menyaksikan eksekusinya di Lembaga Pemasyarakatan Greenville di kota Jarratt. "Dia menghadapinya dengan tenang, sebelum ia masuk ruangan eksekusi," kata pengacaranya, James Rocap III.

Lewis menyuruh dua pembunuh bayaran untuk menembak suaminya, Julian Clifton Lewis Jr, dan putranya, Charles, saat mereka tidur di rumah pada Oktober 2002. Kedua pelaku pembunuhan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan salah satunya melakukan bunuh diri pada 2006.

Saat menuju kamar eksekusi ia sempat melirik 14 orang yang menyaksikan kematiannya. Sebelum disuntik mati, Lewis sempat bertanya apakah putri tirinya berada di sana. Kathy Clifton, memang berada di sana, di ruang saksi yang memang tak dapat dilihat dari ruang eksekusi. "Tolong katakan padanya saya menyayanginya dan sangat menyesal," tuturnya.

Ketika obat mengalir ke dalam tubuhnya, kakinya sempat bergerak namun kemudian tak bergerak. Petugas kemudian memeriksanya dan menyatakan Lewis telah meninggal. Lebih dari 7.300 pernyataan petisi diajukan kepada gubernur vancouver untuk menghentikan eksekusi itu.

Sebelum Lewis, perempuan yang dieksekusi mati di AS berasal dari negara bagian Texas pada 2005. Dari 1.200 orang yang dihukum mati di AS (sejak Mahkamah Agung kembali melegalkan hukuman mati) hanya 11 diantaranya adalah perempuan.

Pengacara Lewis sempat menyatakan kliennya berada di perbatasan antara sehat dan cacat mental. Namun kemudian itu tidak terbukti di persidangan. Selama hidupnya perempuan berwajah subur ini dikenal cukup taat beribadah. Ia pun sering menyenandungkan lagu untuk suaminya yang telah dibunuhnya.

"Saya menggunakan narkoba, mencuri, berbohong dan beberapa kali berselingkuh selama pernikahan saya," tulis Lewis dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di layanan penjara keagamaan pada bulan Agustus. Ia mengaku hanya berdoa ketika berada di gereja.

Saat itulah Charles memperoleh polis asuransi jiwa 250 ribu, dengan nama ayahnya sebagai ahli waris jika ia tewas. Sang ibu tiripun tergoda mendapatkan uang itu meski ia harus membunuh suami dan putra tirinya. Jalan itu terbuka setelah ia berhasil membujuk dua pria yang sempat ditidurinya sebelum membunuh keluarganya.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement