Rabu 23 Feb 2011 13:18 WIB

Asia Selatan Berencana Evakuasi Massal Warganya di Libya

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI - Negara-negara Asia Selatan, Rabu (23/2) mempersiapkan rencana evakuasi puluhan ribu pekerja migran mereka yang tinggal di Libya. Sebagian besar mereka bekerja sebagai buruh bangunan dengan upah rendah.

"Pengaturan untuk evakuasi udara dan laut warga kami dari Libya adalah dalam tahap penyelesaian," kata Menteri Luar Negeri India Nirupama Rao kepada wartawan di New Delhi Selasa malam.

"Ini akan menjadi operasi raksasa. Kami tidak akan hanya mengatur pesawat terbang atau kapal, tetapi juga untuk mendapatkan izin dari pihak berwenang Libya untuk pesawat kami bisa mendarat di sana."

 

Sekitar 18.000 orang India diduga tinggal di Libya. Sekitar 3.000 dilaporkan berada di kota yang dilanda kekerasan Benghazi di mana mereka bekerja di perusahaan-perusahaan mobil dan rumah-rumah sakit.

 

Rao mengatakan, sebuah kapal penumpang yang bisa membawa 1.000 orang saat ini sedang berada di Laut Merah. Petunjuk telah diberikan bagi kapal itu untuk berhenti di satu daerah.

Bangladesh, sebuah negara miskin yang mengandalkan penghasilan yang dikirim oleh para pekerjanya yang bekerja di luar negeri, mengatakan pihaknya sedang mengupayakan pilihan untuk mengevakuasi sejumlah besar warga negaranya di Libya.

"Perhatian utama kami adalah keselamatan dan keamanan sekitar 60.000 warga Bangladesh yang bekerja di Libya," kata Menteri Luar Negeri Mijarul Quayes kepada wartawan.

"Evakuasi adalah sebuah pilihan. Pemerintah Bangladesh telah meletakkan opsi ini di atas meja. Kami akan melakukan segala yang kita dapat lakukan, apa pun, untuk menjamin keselamatan dan keamanan pekerja kita, tetapi situasinya sangat, sangat fluktuatif." ujarnya. "Jika mungkin, kami akan memulangkan semua pekerja kami ke Bangladesh."

Bangladesh dan Sri Lanka keduanya menghubungi Organisasi Migrasi Internasional (IOM) untuk meminta bantuan mengenai rencana evakuasi mereka. "Kami tidak memiliki pesawat untuk membawa mereka pulang, jadi kami bertanya kepada IOM," kata wakil menlu Sri Lanka Neomal Perera.

"Kami juga telah berbicara dengan duta besar dari negara-negara sahabat untuk mendapatkan bantuan mereka. Sekitar 1.200 warga Sri Lanka secara resmi terdaftar sebagai pekerja di Libya, meskipun jumlah sebenarnya diperkirakan lebih banyak lagi.

Pejabat Nepal di Kathmandu juga mengatakan mereka sedang mengupayakan rencana untuk mengevakuasi sekitar 2.000 warganya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Apa yang paling menarik bagi Anda tentang Singapura?

1 of 7
Advertisement

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement