Senin 12 Apr 2010 06:13 WIB

Harga Pupuk Naik, Harga Gabah Petani Banyumas Malah Anjlok

Rep: Eko Widiyanto/ Red: Budi Raharjo
Petani memupuk sawah
Foto: Sahrul Manda Tikupadang/Antara
Petani memupuk sawah

BANYUMAS--Apes nian nasib petani di Banyumas, Jawa Tengah. Di saat pemerintah menaikkan harga pupuk rata-rata sebesar 35 persen, harga gabah di Banyumas justru terus merosot. Bahkan, penurunan harga gabah ini, sudah jauh di bahwa HPP (harga pembelian pemerintah) sebesar Rp 2.640 per kilogram untuk gabah kering giling.

Dari pantauan Republika di lapangan, harga gabah saat ini terus mengalami penurunan. Bila pada Februari lalu, harga gabah kering giling bertengger pada angka Rp 350 per kilogram, kini hanya dihargai Rp 2.100 per kilogram.

''Ini memang menyakitkan. Setiap musim, kondisinya selalu saja begitu. Bila sedang musim paceklik, saat petani sendiri tidak punya gabah, harga gebah melonjak tinggi hingga petani sendiri tak bisa menjangkaunya. Tapi saat panen dan petani punya gabah banyak, harga merosot drastis,'' keluh Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Banyumas, Muntohar, Ahad (11/4).

Yang membuat petani menjadi lebih sakit, menurut Muntohar, karena dalam situasi seperti ini, pemerintah justru menaikkan harga pupuk urea. Apalagi, tingkat kenaikkannya cukup tinggi mencapai 33 persen, dari Rp 60.000 per sak isi 50 kilogram menjadi Rp 78.800 per sak untuk isi yang sama.

Lebih menyedihkan lagi, saat ini pupuk seperti menghilang di pasaran. Seperti di agen KUD wilayah Kecamatan Patikraja yang menjadi ditributor pupuk urea, saat ini tak lagi memiliki stok pupuk urea. ''Kami kehabisan stok, mas,'' kata Jubed, salah seorang agen pupuk tersebut.

Muntohar menyebutkan, kenaikkan harga pupuk ini memperberat beban petani dalam memulai musim tanam seusai musim panen April 2010 ini. Dia menyebutkan, dengan harga pupuk yang lama saja, petani sudah berat untuk memelihara tanamannya. Apalagi setelah harga pupuk naik.

Dia menyebutkan, biaya untuk membeli pupuk, diperoleh kebanyakan petani dari padi hasil panennya. ''Namun karena harga padi hasil panen merosot sementara harga pupuk naik, maka beban yang ditanggung petani menjadi makin berat,'' katanya.

Dari tokoh ramai dibicarakan ini, siapa kamu jagokan sebagai calon gubernur DKI Jakarta 2024

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement