REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Autisme adalah gangguan perkembangan neurobiologis berat yang terjadi pada anak sehingga menimbulkan masalah dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Perilaku autis biasanya terlihat pada tiga tahun pertama usia anak dan akan terus berlanjut selama hidupnya jika tak diintervensi.
Dokter spesialis anak sekaligus konsultan di Klinik Intervensi Dini Applied Behavior Analysis (KIDABA), dr Rudy Sutady memaparkan, seorang anak bisa dikatakan autis jika memunculkan separuh dari gejala-gejala berikut.
1. Gangguan komunikasi
Gejalanya seperti tidak bicara atau terlambat bicara, menarik tangan orang dewasa jika menginginkan sesuatu, bahasa 'planit' atau menceracau, membeo apa yang didengar (ekolali), bicara sepatah dua patah kata dan biasanya terhenti pada usia 18-24 bulan. Kemudian pemahaman pada kata-kata terbatas.
2. Gangguan interaksi sosial
Gejalanya seperti tidak adanya kontak mata, tidak mau bermain dan berinteraksi timbal balik dengan anak sebayanya, kurangnya hubungan sosial dan emosional timbal balik, tidak ada respons ketika didekati orang asing atau saat jauh dengan orang tua dan anggota keluarga dekat lainnya.
3. Gangguan perilaku
Gejalanya seperti asik bermain sendiri, ketertarikan aneh pada benda atau bagian benda tertentu, minat berlebihan pada suatu benda, rutinitas harus sama dan perilakunya menjadi tidak terkendali jika urutannya berbeda. Stimulasi diri sendiri yang terlihat adalah suka mengepak-ngepakkan tangan, memutar-mutar benda atau diri sendiri, jalan berjinjit, dan senang menatap benda berputar, seperti kipas angin atau roda.
4. Gangguan sensori
Gejalanya adalah hipo dan hipersensitif. Jika hiposensitif, anak tidak merasakan sakit jika tubuh atau bagian tubuhnya terluka. Jika hipersensitif, anak tidak suka disentuh, tidak suka menyentuh tekstur tertentu, tidak suka atau tahan pada suara tertentu, seperti suara blender, mikser, pemotong rumput, dan penyedot debu.