REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah gangguan tidur yang banyak diderita baik laki-laki maupun perempuan di seluruh dunia. OSA telah dikaitkan dengan sejumlah kondisi mengancam kehidupan termasuk Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), asma, tekanan darah tinggi, hipertensi, penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kelainan metabolik.
Gangguan bernapasan saat tidur (Sleep disorder breathing), seperti OSA dengan salah satu gejala utama mendengkur adalah suatu penyakit yang dapat diobati, akan tetapi 80 persen penyandang OSA belum dapat didiagnosis. OSA menyebabkan kualitas tidur berkurang yang berdampak turunnya produktivitas seseorang di siang hari dan memicu munculnya berbagai penyakit.
Selain dapat membahayakan kesehatan, gangguan tidur juga bisa membahayakan keselamatan publik termasuk kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan di tempat kerja. Data menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas tujuh kali lebih tinggi pada penderita OSA dibandingkan bukan OSA.
Meskipun demikian OSA saat ini masih belum banyak diketahui baik masyarakat umum. Oleh karena itu pemahaman mengenai kualitas tidur yang baik harus di sosialisasikan baik di lingkungan tenaga medis maupun masyarakat awam.
Rumah sakit (RS) umum Persahabatan merupakan pusat rujukan respirasi nasional dengan salah satu unggulan Klinik Gangguan Tidur. Klinik ini memberikan pelayanan secara komprehensif kepada pasien yang menderita penyakit gangguan tidur baik yang murni maupun yang dengan komorbid.
Penyebaran luasan informasi gangguan tidur dengan berbagai komplikasinya terhadap masyarakat luas, sangat penting meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya jangka panjang penyakit gangguan tidur.
Penyebaran ini dapat dilakukan kepada tenaga medis termasuk dokter umum, dokter spesialis, perawat maupun tenaga kesehatan lainnya, baik di RS Persahabatan maupun rumah sakit lain. Juga penting meningkatkan pengetahuan tenaga medis dalam penanganan OSA dan penyakit gangguan tidur lainnya.