Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

14 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Sudah Amankah Pergi Berwisata? Ini Pendapat Pakar

Sabtu 25 Dec 2021 05:57 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Esthi Maharani

Pengendara mobil melintas di jalur contra flow saat terjadi kemacetan di jalan tol Jagorawi, Jakarta Timur, Jumat (24/12). PT Jasa Marga (Persero) memproyeksikan puncak arus mudik libur Natal dan Tahun Baru 2022 terjadi pada Jumat (24/12/2021) hingga Ahad (2/1/2022). Sementara jumlah volume kenderaan yang meninggalkan wilayah Jabodetabek melalui jalan tol dari tanggal 17-23 Desember 2021 mencapai 1,1 juta kendaraan atau meningkat 8,9 persen dari lalu lintas harian normal pada bulan November lalu. Republika/Thoudy Badai

Pengendara mobil melintas di jalur contra flow saat terjadi kemacetan di jalan tol Jagorawi, Jakarta Timur, Jumat (24/12). PT Jasa Marga (Persero) memproyeksikan puncak arus mudik libur Natal dan Tahun Baru 2022 terjadi pada Jumat (24/12/2021) hingga Ahad (2/1/2022). Sementara jumlah volume kenderaan yang meninggalkan wilayah Jabodetabek melalui jalan tol dari tanggal 17-23 Desember 2021 mencapai 1,1 juta kendaraan atau meningkat 8,9 persen dari lalu lintas harian normal pada bulan November lalu. Republika/Thoudy Badai

Foto: Republika/Thoudy Badai
Masyarakat perlu menyadari risiko yang ditimbulkan jika akan berwisata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah bekerja keras sepanjang tahun dan lelah menghadapi berbagai tekanan di tengah pandemi, ingin rasanya melepas penat dengan berwisata di akhir tahun. Namun, apakah keinginan tersebut bijaksana?

Bagaimanapun, alasan bosan dan jenuh tidak sebanding dengan dampak yang bisa terjadi. Terlebih, jika banyak orang tak bisa menahan diri berwisata dan malah ada lonjakan kasus Covid-19 di momen akhir tahun.

Baca Juga

Ahli epidemiologi Universitas Auckland di Selandia Baru, Rod Jackson, menyarankan untuk tidak bepergian kecuali karena alasan tertentu. Misalnya, untuk pekerjaan penting atau berjumpa dengan keluarga dalam momen yang tidak bisa ditunda.

"Bepergian hanya boleh dilakukan jika sudah divaksinasi lengkap dan orang yang akan ditemui juga sudah divaksinasi lengkap," ujar Jackson, dikutip dari laman Stuff. Anjuran berlaku di manapun seseorang hendak bepergian.

Profesor Michael Plank dari University of Canterbury mengatakan masyarakat perlu menyadari risiko yang ditimbulkan jika akan berwisata. Perlu melakukan langkah-langkah tertentu guna meminimalisasi risiko.

Faktanya, berwisata sama saja dengan berpeluang membawa virus ke komunitas yang rentan. Plank mengatakan pelancong harus terbukti negatif Covid-19 yang diketahui melalui tes sebelum berangkat dan menghindari destinasi yang tercatat punya kasus tinggi.

Sebaiknya berpikir dua kali sebelum bepergian ke daerah yang tingkat vaksinasi populasinya di bawah 90 persen. Pilih destinasi lain yang bisa dikunjungi, mungkin yang lebih dekat dengan tempat tinggal.

Plank juga mencatat bahwa banyak tempat liburan populer yang lokasinya jauh dari rumah sakit besar dengan fasilitas ICU. Artinya, layanan kesehatan sulit diakses jika menghadapi kondisi darurat.

Hindari tempat-tempat berisiko tinggi seperti area dalam ruangan, terutama jika bepergian dengan anak kecil. Plank menyampaikan, anak di bawah usia 12 tahun menyumbang sekitar satu dari lima kasus.

"Tetapi mereka tidak dapat divaksinasi dan dibebaskan dari persyaratan tes Covid-19. Jadi keluarga yang bepergian dengan anak kecil memiliki risiko lebih tinggi untuk membawa virus bersama mereka," ungkapnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile