Selasa , 25 Mar 2014, 20:41 WIB

Bintang Bukan Jaminan Kesuksesan Timnas

Red: Didi Purwadi
Lionel Messi
Foto EPA/Alberto Estevez

Lionel Messi

Oleh : Satria Kartika Yudha

Masih ingat dengan nama Giuseppe Signori? Pecinta sepak bola Serie A pasti tidak akan lupa dengan legenda Lazio tersebut. Dulu dia adalah salah satu striker kelas wahid yang dimiliki tim nasional Italia.

Signori selalu menjadi momok bagi tim-tim lawan. Bagaimana tidak, pemain yang dikenal memiliki tendangan keras dengan kaki kirinya itu mampu menjadi topskorer Serie A selama tiga musim  (1992-93, 1993-94, 1995-96). Ia mengungguli bomber Gianfranco Zola dan Roberto Baggio yang juga merupakan kompatriotnya.

Sayang, performa apik Signori bersama klub tidak menular ke level timnas. Pria yang kini berusia 44 tahun itu tidak bisa menyumbang sebiji gol pun untuk Gli Azzurri pada putaran final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Itu adalah Piala Dunia pertama dan terakhirnya.

Salah satu penyebab 'kemandulan' Signori karena memiliki hubungan buruk dengan pelatih Italia, Arrigo Sacchi. Singkat cerita, Sacchi meminta Signori untuk bermain sebagai winger, namun Signori menolaknya. Imbasnya, Signori pun dicadangkan di partai final melawan Brasil.

Pembuktian Messi

Apa yang dialami Signori membuktikan bahwa status pemain bintang di klub bukan jaminan bagi sebuah tim nasional. Ini pula yang mungkin sekarang dirasakan dan menjadi sebuah tantangan yang patut dijawab para pemain terbaik dunia seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo menjelang Piala Dunia 2014 Brasil.

Messi misalnya, prestasi dia bersama Barcelona tidak perlu diragukan lagi. Enam gelar La Liga dan tiga trofi Liga Champions membuktikan betapa pentingnya keberadaan Messi di skuat Blaugrana.

Tapi kebahagiaan Messi belum lengkap. Pasalnya, prestasinya di timnas Argentina tidak mentereng. Pada Piala Dunia 2010, Messi yang digadang-gadang bakal menjadi bintang, tidak mampu mencetak gol. Argentina tersingkir di perempat final dengan kekalahan telak empat gol tanpa balas oleh Jerman.

Legenda Brasil, Pele, turut angkat bicara soal Messi. Ia memprediksi Messi tidak akan bisa berbicara banyak pada Piala Dunia nanti meskipun telah memberikan sinyal positif dengan mencetak 10 gol pada kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Selatan.

"Saat anda melihatnya bermain untuk Barcelona, dia adalah Messi yang sebenarnya. Tapi, ketika bersama Argentina, dia adalah Messi yang berbeda," kata Pele dilansir Samba Foot.

Messi boleh saja tampil cemerlang di pada kualifikasi zona Amerika Selatan. Namun tantangan untuk Messi tentu akan lebih berat pada putaran final nanti.

Apalagi, jelas Pele, Messi sudah terlalu terbiasa dimanjakan gelandang kreatif seperti Xavi Hernandez dan Andres Iniesta di Barcelona. "Sedangkan di Argentina, dia terlihat kesulitan untuk berkolaborasi bersama rekan-rekannya," Pele menjelaskan.

Anomali Kempes

Situasi berbeda justru dialami senior Messi di Argentina, Mario Kempes. Kempes yang meskipun prestasinya tidak cemerlang di level klub, justru berhasil mencatatkan namanya dalam buku sejarah sepak bola Tim Tango.

Striker yang pernah merumput di Indonesia bersama Pelita Jaya itu menjadi bintang pada Piala Dunia 1978 di Argentina. Kempes menjadi topskorer dengan raihan enam gol dan mengantarkan Argentina mengangkat trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Padahal saat itu, Kempes tampil melempem bersama Valencia. Kempes hanya mampu membawa Valencia finis di peringkat tujuh La Liga pada musim 1978-1979.

Lalu, siapakah pemain bintang yang diprediksi bakal kesulitan di Piala Dunia 2014? Atau apakah akan ada kejutan dari pemain seperti Mario Kempes?

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
piala dunia 2014 timnas argentina lionel messi
Berita Terpopuler
Berita Lainnya