REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap masyarakat Indonesia menunjukan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga hanya 2,18 persen dan tingkat utilisasi produk dan jasa keuangan hanya 3,37 persen. Hal tersebut mendorong OJK untuk menjadikan ibu rumah tangga termasuk salah satu target prioritas peningkatan literasi keuangan.
Survei yang ditujukan untuk mengetahui tingkat literasi dan utilisasi keuangan tersebut dilakukan tahun lalu di 20 provinsi di Indonesia. Survei melibatkan 8 ribu orang responden.
Dewan Komisioner OJK Kusumaningtuti Soetiono mengatakan, jumlah ibu rumah tangga di Indonesia cukup banyak, tetapi tingkat literasinya rendah. "Oleh karena itu OJK memprioritaskan ibu rumah tangga," ujar Kusumaningtuti, Kamis (7/4).
Berdasarkan data sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada 2010 sebanyak 237 juta jiwa. Sebanyak 49 persen dari jumlah tersebut, atau sebesar 118 juta, adalah wanita. Dari 118 juta wanita, sebanyak 74 juta adalah ibu rumah tangga.
Ia mengatakan, dari hasil survei OJK, sebanyak 51 persen mengatakan pengelolaan uang keluarga dilakukan oleh istri. "Ketika mengambil keputusan jangka pendek, misal ditabung atau dibelikan emas, istri lebih mendominasi dalam mengambil keputusan," ujarnya. Namun, untuk keputusan jangka panjang seperti membeli rumah, suamilah yang mendominasi keputusan.
Berdasarkan tingkat utilisasi, produk dan jasa keuangan yang paling dikenal adalah produk dan jasa perbankan serta asuransi. Sedangkan utilisasi dan literasi mengenai efek dan sekuritas masih kecil. "Apalagi surat utang dan saham. Jadi produk bursa efek masih perlu digalakan edukasinya pada ibu-ibu rumah tangga," ujarnya.