Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

 

29 Safar 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

PM Selandia Baru: Pandemi Covid-19 Belum Berakhir

Selasa 08 Feb 2022 05:02 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

 Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern

Foto: AP/Mark Mitchell/Pool New Zealand Herald
Kemungkinan varian Covid-19 masih dapat berkembang di masa depan.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern pada Selasa (8/2/2022) mengingatkan pandemi Covid-19 masih akan berlangsung. Dalam pidato pertama di parlemen pada 2022, Ardern mengatakan, kemungkinan varian Covid-19 masih dapat berkembang di masa depan.

 

"Saran dari para ahli adalah bahwa omicron tidak akan menjadi varian terakhir yang akan kita hadapi tahun ini. (Pandemi) ini belum berakhir. Tapi bukan berarti kita tidak bisa bergerak maju, dan terus membuat kemajuan," ujar Ardern.

Baca Juga

Pemerintahan Ardern telah memberlakukan beberapa pembatasan pandemi terberat di Selandia Baru selama dua tahun terakhir. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaram virus korona.

Kebijakan tersebut membantu menjaga infeksi dan kematian tetap rendah. Sejauh ini, Selandia Baru mencatat total 18 ribu kasus Covid-19 yang dikonfirmasi dan 53 kematian.

Tapi, kebijakan penguncian yang berkepanjangan membuat sebagian besar warga marah. Langkah-langkah tersebut juga telah menghancurkan bisnis yang bergantung pada wisatawan internasional.

Ratusan orang anti-vaksin dan pengunjuk rasa anti-pemerintah berkumpul di luar parlemen menuntut agar pembatasan pandemi dicabut. Pekan lalu, pemerintah akan membuka kembali perbatasan internasional ke secara bertahap pada Oktober mendatang.

Selandia Baru mencatat kenaikan kasus omicron sejak beberapa pembatasan sosial dilonggarkan. Ardern mengatakan kepada Radio Selandia Baru bahwa puncak omicron di negara tersebut bisa terjadi pada Maret dengan kasus harian berkisar antara 10 ribu hingga 30 ribu.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile