Jumat 04 Apr 2014 06:00 WIB

Prabowo Mencari Cinta

Nasihin Masha
Foto: Republika/Daan
Nasihin Masha

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nasihin Masha

Suka tidak suka, Prabowo Subianto memang memiliki isi yang kuat. Program, visi, dan pemikirannya demikian gamblang. Kultuitnya tentang target dan sumber pendanaan pembangunan jalan tol dan pembangunan rel kereta api di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi demikian jelas. Presentasinya di berbagai tempat tentang masa depan Indonesia yang akan dia jalani jika dia menjadi presiden demikian meyakinkan, konkret, dan masuk akal. Demikian pula program partainya yang mengutamakan pemerataan dan nasionalisme ekonomi juga memikat sebagian publik. Namun dia memiliki dua kelemahan nyata: kisah penculikan aktivis menjelang kejatuhan Soeharto dan kepribadiannya yang temperamental dan impulsif. Prabowo mengeluhkan kegamblangan dirinya yang ditolak publik. Lalu dia membuat puisi tentang kesantunan.

Prabowo meradang. Katanya: Orang boleh mencuri asal santun, orang boleh korupsi asal santun, orang boleh berbohong asal santun. Tapi orang-orang memang takut, tepatnya khawatir, jika Prabowo menjadi presiden. Bahkan di sosmed ada yang menyamakan gaya Prabowo dengan Hitler. Keduanya berlatar belakang militer dan suka berkuda. Juga beredar rumor yang kuat tentang kebiasaan dirinya menghardik dan 'keras' terhadap anak buahnya jika ia nilai tak benar. Rumor itu beredar begitu saja, termasuk di sosmed. Hingga kini belum ada bantahan dari Prabowo maupun orang-orang sekitarnya.

Ketika seseorang berniat maju menjadi capres atau kepala daerah maka dia harus siap dikuliti dari segala sisi. Mulai dari hal-hal yang bersifat objektif hingga ke hal-hal yang bersifat subjektif. Mulai dari pemikirannya hingga kepribadiannya. Mulai kelakuan dirinya hingga kelakuan keluarganya. Kadang kita akan dikejutkan tentang hal-hal yang tak kita duga. Prabowo harus siap menghadapi realitas itu. Ujian pertama adalah menghadapi persepsi publik.

Hingga kini, berdasarkan survei, tingkat elektabilitas Prabowo tak banyak beranjak. Angkanya masih di bawah 20 persen. Karena itu ia masih bekerja keras untuk meyakinkan publik bahwa dirinya layak untuk menjadi presiden. Ia beriklan, menemui publik, berpidato di mana-mana, dan terakhir ia mendapat dukungan dari sejumlah rektor, mantan rektor, dan cendekiawan. Di antara mereka adalah mantan rektor Unpad, Bandung, Yuyun Wirasasmita, dan mantan rektor Unisula, Semarang, Laode M Kamaludin.

Yang membuat gempita adalah pergesekannya dengan Jokowi dan Megawati. Ia merasa dibohongi. Prabowo memang salah satu pengusung Jokowi untuk menjadi gubernur DKI Jakarta. Pada pemilu 2009, Prabowo menjadi cawapres pendamping Megawati. Keduanya membuat perjanjian tertulis bahwa pada pemilu 2014, Megawati akan mendukung Prabowo untuk menjadi presiden. Tapi ternyata PDIP, partai yang dipimpin Megawati, justru mengusung Jokowi untuk maju menjadi capres. Karena itu Prabowo tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dalam kampanyenya, ia banyak menyindir Jokowi maupun Megawati.

Pemilu 2014 bisa jadi merupakan kesempatan terakhir buat dirinya untuk maju menjadi capres. Pada tahun 2019, pemilu berikutnya, ia berusia 68 tahun. Memang masih ada kesempatan, tapi sudah relatif tua. Prabowo sudah berusaha untuk menjadi capres sejak pemilu 2004. Saat itu ia ikut konvensi capres di Partai Golkar. Namun yang menang adalah Wiranto. Akhirnya ia mendirikan partai sendiri, Gerindra, pada 2007. Pada pemilu 2009, Prabowo maju sebagai cawapres mendampingi Megawati. Pasangan ini kalah. Kini, ketika Gerindra relatif sudah terkonsolidasi, Prabowo yakin untuk maju sebagai capres. Ternyata, Jokowi yang paling meroket dalam meraih dukungan publik. Tingkat elektabilitasnya terus meningkat dari waktu ke waktu. Pemilu kali ini seakan sudah menjadi milik Jokowi.

Jangan bicara pesimisme di depan politisi. Mereka akan selalu optimis. Apalagi pemilihan presiden masih tiga bulan lagi. Sejumlah partai masih belum menentukan sikap. Mereka masih menunggu hasil pemilu legislatif pada 9 April nanti. Masih ada dua faktor yang akan ikut menentukan arah politik ke depan. Pertama, sikap partai-partai Islam. Kedua, sikap pribadi SBY. Walau bagaimana pun, partai-partai Islam masih memiliki daya hela untuk memobilisasi massa. Sedangkan SBY, bukan Partai Demokrat, memiliki kekuatan tersendiri, terutama popularitas dirinya dan jaringannya di tingkat pengusaha, kelompok-kelompok kepentingan, maupun di lingkungan kelompok strategis teman-teman militernya. Pada titik ini, bahkan Prabowo bisa kehilangan tiket untuk maju menjadi capres. Hingga kini, perkiraan perolehan suara dan kursi Gerindra belum mencapai angka presidential threshold.

Prabowo dan Gerindra masih harus bekerja keras untuk menggapai cita-citanya. Satu hal yang harus diingat, publik tak hanya butuh logika dan pemikiran. Tapi juga hati. Untuk meraih cinta tak butuh kuda gagah, tapi cukup dengan sekuntum bunga. Menangkan hati rakyat maka sejuta cinta akan kau raih.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement