JAKARTA — Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak pesimistis penerimaan pajak tahun ini mencapai target. Hal ini disebabkan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Fuad Rahmany menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2014 tercatat 5,21 per sen.
Angka ini melambat dari pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama pada tahun sebelumnya, tercatat
sebesar 6,02 persen. Perekonomian dunia mengalami perlambatan, terutama dari negara mitra strategis seperti Cina dan Jepang.
Perlambatan ekonomi global membuat ekspor Indonesia menurun. Pada saat yang sama, perlambatan ekonomi Indonesia membuat impor turun. “Ekspor turun, impor turun. Bagi neraca perdagangan bagus, tapi buat pajak dua-duanya buruk,” ujarnya, Jumat (27/6).
Realisasi penerimaan pajak hingga 20 Juni tumbuh hingga 14,7 persen menjadi Rp 442,57 triliun dari target Rp 1.072 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2014. Dalam periode yang sama pada tahun lalu, penerimaan pajak tercatat Rp 385,97 triliun.
Fuad mengatakan, penerimaan pajak yang utama berasal dari pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN). “Namun penerimaan kita dari PPN melambat. Ini mengkhawatirkan,” ujarnya.
Menurut Fuad, selain perlambatan ekonomi, kurangnya pegawai pajak menjadi salah satu hambatan Ditjen Pajak merealisasi kan target. Tetapi, Menteri Keuangan Chatib Basri meminta keterba tasan pegawai pajak tidak dijadikan ala san buruknya kinerja.Idealnya, Ditjen Pajak ditambahpegawainya sebanyak empat
ka li lipat. Tetapi, hal ini sulit dilakukan dalam waktu singkat. Optimalisasi yang dilakukan antara
lain efesiensi, kerja keras, dan peningkatan disiplin. rep:satya festiani ed: fitria andayani