Rabu 20 Aug 2014 15:00 WIB
Pesona

Dwi Sasono Idamkan Ken Arok

Red:

Karier berakting Dwi Sasono mulai dikenal publik sejak berperan menjadi Rizal dalam film Mendadak Dangdut garapan Rudi Soedjarwo pada 2006. Dalam film tersebut, aktor yang akrab disapa Dwi ini memerankan tokoh bernama Rizal, yakni seorang pemilik organ tunggal yang sok asyik, narsis, dan terlihat norak. Dwi cukup beruntung karena dari 10 ribu orang yang mengikuti casting, hanya dia yang mampu membuat Rudi terpukau.

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto:Panca/ Republika

Dwi Sasono

 

Setelah itu, Dwi selalu bermain di sejumlah film garapan Rudi, di antaranya, Pocong 2 (2008), Mengejar Mas Mas (2007), dan Otomatis Romantis (2008). Sebagai pendatang baru, karier Dwi di industri film Indonesia sangat mumpuni.

Aktor berusia 34 tahun tersebut berhasil mendapatkan tiga nominasi dalam ajang MTV Indonesia Movie Award 2007, yakni Most Favorite Actor (Mengejar Mas Mas), Most Favorite Supporting Actor (Pocong 2), dan Breakthrough Actor/Actress (Mengejar Mas Mas).

Meskipun belum berhasil mengantongi penghargaan, Dwi tetap memantapkan langkahnya untuk mengejar karier di dunia akting. Sejak 2006, suami dari Widi Mulia, personel B3, tersebut tercatat sudah membintangi lebih dari 20 film.

Tak hanya itu, kini dia juga menjalani peran dalam sebuah sinetron komedi (sitkom) berjudul Tetangga Masa Gitu? di salah satu televisi swasta. Belum lama ini, Dwi juga terlibat dalam sebuah film produksi Brunei berjudul Yasmine. Bagaimana dia melihat kariernya selama ini? Berikut perbincangannya:

Kamumendapatkan kesempatan untuk bermain dalam film produksi Brunei. Ada kesan khusus soal ini?

Ini pertama kalinya saya dapat kesempatan main film menjadi orang Brunei. Apalagi, menurut saya, film ini bagus dan baik, dalam artian bisa dinikmati oleh semua umur dan banyak pesan moralnya. Karena, nggak semua sutradara bisa bikin film bagus dan baik.

Ada kesulitan ketika belajar dialek Brunei?

Awalnya sempat agak sulit, tapi setelah dipelajari, ternyata dialek Brunei justru lebih dekat dengan Indonesia dan sangat berbeda dengan dialek Malaysia. Jadi, dalam waktu tiga hari saja,saya sudah bisa beradaptasi dengan dialek Brunei.

Kamu cukup sering dapet karakter yang lucu, apakah kamu memang ingin fokus ke genre komedi?

Nggak juga sih, sebenarnya aku lebih suka main di film drama, tapi dalam berakting saya selalu mencari sesuatu yang berbeda. Saya enjoy di komedi dan kebetulan sitkom yang saya jalani karakternya pas banget, jadi fokus ke situ dulu.

Ada ketakutan akan dicap sebagai komedian?

Emang sih kalau main di komedi terus menerus saya takutnya akan jadi stereotipe. Oleh karena itu, kalau sehari-hari sudah main di komedi, saya pasti pilih tawaran film yang bukan komedi. Karena, bakal jenuh juga kalau main komedi terus.

Ada kesulitan saat harus transisi dari karakter komedi ke karakter lain yang lebih serius?

Nggak ada peran yang susah. Banyak yang bilang, karakter psycho, autis, dan penjahat adalah yang paling susah dan menantang, tapi menurut saya itu nggak susah. Justru, paling susah itu menjadi orang yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan natural dan rileks. Berakting dengan natural itu susah, apalagi kalau ada adegan ngobrol yang tabrakan, dan saat ini saya sedang mengejar hal itu. Saya ingin berakting, tapi nggak keliatan kalau sedang akting.

Kalau dikasih kesempatan untuk memilih, karakter seperti apa yang pengen dicoba?

Saya lagi senang menonton film kolosal dan baca buku karya Langit Kresna Hariadi yang judulnya Gajah Mada. Kalau ada sutradara yang mau bikin film tentang Kerajaan Singasari saya pengen banget bisa mendapatkan peran menjadi Ken Arok.

rep:rizky jaramaya ed: endah hapsari

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement