Jumat 09 Mar 2012 13:31 WIB

Fikih Muslimah: Bolehkah Menginfakkah Harta Suami Tanpa Izin? (1)

Rep: Syahruddin El-Fikri/ Red: Chairul Akhmad
Sedekah (ilustrasi).
Foto: Wordpress.com
Sedekah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Allah mewajibkan umat manusia untuk hanya menyembah dan mengabdi kepada-Nya. (QS Adz-Dzariyat: 56).

Ibadah itu ada yang wajib dan ada pula yang sunah. Yang wajib adalah shalat, puasa, zakat, dan berhaji (bila mampu). Sedangkan yang sunah adalah bersedekah, shalat dhuha, puasa Senin-Kamis, dan lain sebagainya.

Dalam hal bersedekah, Allah SWT sangat menganjurkan umat Islam untuk melakukannya. Sebab, banyak keutamaan yang terdapat di dalamnya. Seperti, membersihkan harta yang dimiliki, dan saling berbagi dengan sesama atau memupuk semangat untuk saling mengasihi dengan orang yang membutuhkan.

Karena besarnya keutamaan itu, sudah sepantasnya bila setiap umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan untuk melaksanakannya. Hanya saja, bagaimana bila harta yang dimiliki untuk bersedekah itu, bukan milik pribadi, tetapi milik bersama. Misalnya, harta yang diperoleh oleh suami, apakah diperbolehkan seorang istri memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, sementara suaminya tidak mengetahuinya (belum ada izinnya)?

Dalam hal ini, para ulama berselisih paham. Sebagian menyatakan, bahwa haram hukumnya seorang istri mengeluarkan atau membelanjakan harta suami tanpa seizinnya. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin suaminya, kendati orang tuanya sedang sekarat.

Dalam kitab Al-Faqih jilid III dijelaskan, bahwa seorang istri harus tunduk dan patuh terhadap suami. “Istri harus patuh dan tidak menentangnya. Tidak menyedekahkan apa pun yang ada di di rumah suami tanpa izin sang suami. Tidak boleh berpuasa sunah kecuali dengan izin suami. Tidak boleh menolak jika suaminya menginginkan dirinya walaupun ia sedang dalam kesulitan. Tidak diperkenankan keluar rumah kecuali dengan izin suami.”

 

Begitu pentingnya perhatian istri terhadap hak-hak suami, Rasulullah SAW bersabda, “(Ketahuilah) bahwa perempuan tidak pernah akan dikatakan telah menunaikan semua hak Allah atasnya kecuali jika ia telah menunaikan kewajibannya kepada suami.” (Makarim Al-Akhlaq: 215).

Dari Abu Umamah, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasul SAW bersabda ketika beliau berkhutbah pada pelaksanaan Haji Wada’. “Tidak diperbolehkan bagi perempuan Muslimah menginfakkan sesuatu dari rumah suminya, kecuali dengan seizinnya." Kemudian ditanyakan kepada Rasul SAW, “Wahai Rasulullah, termasuk juga makanan?” Beliau menjawab, “Itu merupakan harta kita yang berharga.” (HR. Tirmidzi, dan hadits ini menurutnya hasan).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement