Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

13 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

AS Keluarkan Larangan Bepergian ke Mali

Senin 09 Apr 2012 03:39 WIB

Red: Dewi Mardiani

Tentara Mali yang memberontak mengepung istana presiden di ibukota Bamako, Senin lalu (26/3).  (Foto file)

Tentara Mali yang memberontak mengepung istana presiden di ibukota Bamako, Senin lalu (26/3). (Foto file)

Foto: Aliou Sissoko/AP

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Semua relawan Peace Corps telah diungsikan dari Mali dan sejumlah jajaran diplomatik Amerika Serikat (AS) ditawarkan penerbangan ke luar negeri itu. Tindakan tersebut dilakukan setelah kudeta militer di Mali pada Maret, kata beberapa pejabat Ahad (8/4).

Departemen Luar Negeri menyatakan pihaknya memberikan peringatan kepada warganya agar tak melakukan perjalanan apa pun ke Mali pada saat ini. Di Mali terjadi ketidakstabilan politik dari aksi perlawanan yang pecah di bagian utara negara tersebut. Selain itu, lanjut pejabat AS, ada ancaman serangan berlanjut dan penculikanorang asing di Mali bagian utara.

Dalam peringatan tersebut disampaikan desakan Deplu AS agar warga negaranya di Mali untuk mempertimbangkan keluar dari negara tersebut. "Situasi di negeri itu mudah berubah dan tak bisa diramalkan," kata Deplu AS, seperti dilansir AFP dan dipantau Antara, Senin (9/4).

Meskipun bandar udara di Bamako dibuka, lanjut pernyataan itu, pesawat yang tersedia beberapa waktu ke depan tak bisa diramalkan dan tergantung atas situasi keamanan. Peringatan paling akhir tersebut dikeluarkan setelah Presiden Mali, Amadou Toumani Toure, yang digulingkan dalam kudeta militer pada Maret, secara resmi mengundurkan diri, sehingga melicinkan jalan bagi kepergian junta militer yang mendepak dia.

Berdasarkan ketentuan dalam kesepakatan peralihan dengan blok Afrika Barat, ECOWAS, para pemimpin junta mengatakan mereka akan mengizinkan negara itu kembali ke demokrasi segera setelah Toure secara resmi meletakkan jabatan. Kesepakatan tersebut juga memberi peluang pencabutan sanksi ECOWAS, serta pengampunan bagi mereka yang terlibat dalam kudeta.

Pada Jumat (6/3), kelompok gerilyawan Tuareg memproklamasikan kemerdekaan bagi wilayah di bagian utara Mali yang disebut Azawad, setelah negara itu terpecah menjadi dua wilayah yang dikuasai gerilyawan di bagian utara dan junta di selatan akibat kudeta yang dilakukan oleh militer pada Maret.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile