Senin 24 Dec 2012 13:00 WIB

MUI: Jangan Ada Upaya Mengubah Pancasila

Logo MUI
Foto: kemenag.go.id
Logo MUI

REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPINANG -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau menyatakan, Pancasila merupakan ideologi yang dapat menjadi perekat kerukunan umat beragama, karena itu jangan ada lagi upaya mengubah ideologi tersebut.

"Jangan ada lagi upaya mengubah Pancasila. Ideologi itu sudah tepat dan sesuai dengan kepentingan umat beragama," kata Ketua Ketua I Majelis Ulama Indonesia Kota Tanjungpinag, Imran Effendy Hasibuan, Senin (24/12).

Pendapat itu juga disampaikannya saat menjadi narasumber di hadapan ratusan mahasiswa pada acara Seminar deradikalisasi yang digelar oleh Forum Pemberdayaan Pesantren Kepulauan Riau, di Aula Muhammadiyah Tanjungpinang baru-baru ini.

Hasibuan yang juga dosen di STAI Tanjungpinang mengatakan, permasalahan kebangsaan seperti konflik antarsuku dan antar umat beragama, korupsi, narkoba dan terorisme harus segera diselesaikan. Seluruh elemen masyarakat diharapkan tidak hanya sibuk mengurus kelompoknya masing-masing.

"Jangan pula berfikir untuk mengubah ideologi Pancasila dengan ideologi tertentu, karena hal itu hanya akan menambahkan beban bagi bangsa dan negara," ujarnya.

Menurut dia, sejarah telah mencatat perjalanan panjang perumusan Pancasila sebagai ideologi bangsa mengalami pergulatan pemikiran yang cukup alot, dan keputusan untuk mengambil Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah merupakan keputusan yang tepat dengan kondisi Indonesia saat dahulu hingga sekarang.

Pemaksaan terhadap pendirian Negara Islam oleh sekelompok tertentu, justru hanya menimbulkan konflik yang tidak akan berhenti. "Justru pada akhirnya, hal ini akan membentukan antar umat Islam itu sendiri, apalagi Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim," ujar alumnus Universitas Kebangsaan Malaysia itu.

Ia menyatakan tidak ada benturan antara nilai-nilai Islam dengan apa yang terkandung di dalam Pancasila. Justru Islam menjadi roh bagi Pancasila. Semua sila-sila dalam Pancasila adalah refleksi dari berbagai firman-firman Allah yang terkandung di dalam Alquran. Sila pertama dari Pancasila merupakan sebuah refleksi dari Surat Asy Syuura ayat 11.

"Dalam surat tersebut Allah SWT berfirman bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat," ungkap Hasibuan sambil memberikan gambaran secara rinci.

Hal senada juga di sampaikan oleh Kepala Kementerian Agama Kota Tanjungpinang, Abu Sofyan. Dia menambahkan, banyaknya tindakan-tindakan amoral yang terjadi di Indonesia disebabkan mulai lunturnya pemahaman Pancasila.

"Pancasila hanya dipahami secara tekstual saja, orang hanya mengenail Pancasila sebagai dasar atau lambang negara namun tidak mampu mengamalkan sila-sila yang terkandung di dalam Pancasila itu sendiri," ujar Abu Sofyan.

Ia mengemukakan, menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2013, maka sebagai umat beragama harus saling menghargai umat lainnya yang menjalankan ibadah. Menghargai bukan berarti ikut dalam merayakan Natal, namun membiarkan mereka menjalankan ibadah dan tetap menjaga keamanan dan kenyamanan.

"Sebagai umat muslim dan mayoritas di Indonesia maka kita harus menghargai dan menjaga keamana dan kenyamanan dalam peribadatan umat lain, namun tentunya tidak ikut dalam merayakannya," imbau Abu.

Kegiatan Seminar deradikalisasi yang mengangkat tema Meminimalisir Paham Radikal Dengan Pengamalan Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa dan Perekat Kerukunan Umat Beragama" ini dihadiri narasumber seperti dari unsur Polresta Tanjungpinang yang diwakili oleh AKP Aswandi, Unsur Kementrian Agama serta dari MUI dan akademisi.

Dalam kegiatan tersebut dilakukan penandatanganan nota bersama dalam menjaga keamanan dan kekondisifan selama perayaan Natal dan Tahun Baru 2013 antara kepolisian dengan beberapa ormas Islam yang di Tanjungpinang. "Nilai-nilai Pancasila harus senantiasa di tanamkan pada generasi muda," kata Rizaldy Siregar, Ketua Forum Pemberdayaan Pesantren Kepri.

Siregar mengatakan, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Indonesia yang mayoritas penduduknya dalam Muslim, sudah memiliki Pancasila sebagai sebuah ideologi dalam berbangsa dan bernegara. 

Pancasila yang sudah di rumuskan oleh para pendiri bangsa sudah melewati perjalanan yang cukup panjang dalam menemani perjalan bangsa Indonesia hingga saat ini.

"Pancasila saat ini masih sangat ideal dan relevan digunakan dalam merajut dan perekat segala keberbedaan yang ada di Indonesia. Apalagi untuk saat ini, konsep dan ideologi Pancasila harus terus ditanamkan kepada setiap generasi bangsa Indonesia," katanya.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement