Wednesday, 12 Muharram 1444 / 10 August 2022

Wednesday, 12 Muharram 1444 / 10 August 2022

12 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA
Penanganan Terorisme

Isu Terorisme Meresahkan Dai

Ahad 05 Jan 2014 22:47 WIB

Red: Zaky Al Hamzah

Terorisme (ilustrasi).

Terorisme (ilustrasi).

Foto: peoplefirstindia.org

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Dewan Pengurus Pusat Wahdah Islamiyah menilai, isu terorisme meresahkan dai. Wahdah Islamiyah menilai, keikhlasan para dai dalam berdakwah terusik karena penampilan dan aktivitas mereka dicurigai sebagai pelaku atau kaki tangan teroris.

“Isu terorisme meresahkan. Meskipun para dai bukan teroris dan tidak berkaitan dengan aksi teror, tetap saja ada pandangan yang sebelah mata terhadap mereka.” ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah Ustaz Zaitun Rasmin saat membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Wahdah Islamiyah di kompleks Asrama Haji Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (4/1).

Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam Wahdah Islamiyah yang memiliki program Tebar Dai Nusantara kerap mendapat laporan ketakutan masyarakat terhadap aktivitas dakwah. Zaitun mengatakan, dai yang seharusnya menjadi penerang umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kerap dicurigai. “Berjenggot, bercelana cingkrang, berjubah, berpeci, kerap menjadi penampilan sehari-hari dai, baik di kota maupun pedalaman,” ujarnya, akhir pekan lalu.

Para dai juga kerap memakai nama-nama yang berasal dari bahasa Arab, seperti Muhammad, Ahmad, Abdul, dan lainnya. Nama-nama seperti itu akan menjadi masalah dalam kepengurusan dokumen, seperti visa.

Aktivitas sehari-hari dai, Zaitun menjelaskan, adalah shalat di mushala atau masjid. Kemudian, mengisi pengajian, mengajarkan anak-anak membaca Alquran, dan menanamkan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin.

Melalui doktrin ukhuwah dan tasamuh (toleransi) yang tertanam di jiwa mereka, para dai mendakwahkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan negara. Merekalah yang berdiri di garda terdepan dalam menanamkan nasionalisme dan kearifan agama.

Sayang, kata Zaitun, hal itu terhapuskan karena adanya kecurigaan, seperti terorisme. "Isu ini bagi saya sangat meresahkan dan penyebarnya tidak bertanggung jawab," tegas Wakil Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Internasional ini.

Ia mengimbau para dai untuk tetap konsisten dalam berdakwah. Mereka harus tetap menyebarkan rahmat Allah kepada seluruh rakyat Indonesia. Mereka diharapkan meminta pertolongan Allah dengan sabar dan shalat (wasta'inu bi ash-shabri wa as-shalah).

Apa yang dijelaskan Zaitun ternyata dialami Dirjen Bimas Islam Kemeterian Agama (Kemenag) Abdul Djamil. Ketika menghadiri sebuah seminar di San Francisco, Amerika Serikat, dokumen perjalanannya diperiksa ketat. Nama di paspornya tertulis Abdul Djamil bin Masyhudi.

Ketika paspornya diperiksa, Djamil langsung diminta masuk ke ruangan khusus. Petugas di sana kemudian menanyakan apakah dirinya bersaudara dengan buronan teroris ketika itu, Bin Ladin. "Hanya karena bin saja dokumen saya langsung dipermasalahkan," tutur Djamil.

Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Sulawesi Selatan Komisaris Besar Polisi Baharudin Djafar menyatakan, kecurigaan-kecurigaan yang merugikan para dai adalah bagian dari cobaan. “Allah menguji konsistensi mereka dalam berdakwah,” ujarnya.

Dia menyebutkan sejarah Rasulullah dahulu ketika mendakwahkan Islam pertama kali. Rasulullah, kata Baharudin, dilempari kotoran dan dipukuli. Sampai akhirnya, malaikat mendatangi Beliau sambil menawarkan, apakah mereka yang menzalimi itu harus dimusnahkan.

Namun, Rasulullah mengatakan, mereka belum mengetahui apa-apa. "Nanti mereka akan tobat. Kalau tidak, anak cucu dan keturunan mereka nantinya pasti akan bertobat," jelas Baharudin menuturkan sejarah Rasulullah yang disambut takbir ribuan peserta mukernas.

Menurut Baharudin, para dai tidak perlu khawatir dengan isu seperti itu. Sebab, nanti masyarakat akan memahami dengan sendirinya mana yang teroris dan mana yang bukan. “Polri melalui Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror hanya akan menindak mereka yang terlibat aksi teror,” ujarnya. n ed: chairul akhmad

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile