Kamis 10 Apr 2014 21:05 WIB

Pengelolaan Ternak Bisa Memperpanjang Umur Industri Ekspor Kerbau

Peternakan Sapi (Ilustrasi)
Foto: Antarafoto
Peternakan Sapi (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, AUSTRALIA -- Perdagangan kerbau dengan  Vietnam memberikan harapan baru bagi inudstri ternak hidup Australia. Apalagi peternak sempat kesulitan mencari akses pasar selama beberapa tahun terakhir.

Sekretaris Dewan Industri Kerbau Kawasan Teritori Utara, Harmony Teelow, mengatakan meski pasar baru menyajikan kesempatan yang menarik bagi operator, dia juga khawatir tentang dampak jangka panjang dari panen ternak kerbau yang tidak diatur.

 

"Ada orang-orang  oportunis yang datang dengan membawa satu truk penuh persediaan alkohol, dan mereka mendatangi rumah-rumah warga Aborigin dan mengetuk pintu mereka dan menawarkan 'Saya akan menukar seluruh alkohol di truk saya itu jika Anda membiarkan saya masuk  ke wilayah anda dan mengambil kerbau Anda',” jelasnya belum lama ini.

"Anda harus ingat bahwa harga kerbau jantan di pasar saat ini bernilai sekitar AUD$500 -AUD$600, sementara kerbau perempuan AUD$ 400 - AUD$500.

"Anak-anak sapi  yang banyak mereka tangkap sekarang mungkin tidak ada harganya, tapi jika dipelihara kerbau-kerbau muda itu akan siap dipanen tahun depan.

"Jadi jika mereka mendatangi warga yang punya ketergantungan alkohol dan menawarkan satu truk penuh minuman keras, maka ia dengan  mudah akan terbujuk,” ungkapnya.

Teelow juga mengatakan meski industri ingin bekerja lebih erat dengan Pemilik Tradisional dari kerbau-kerbau di kawasan Teritori Utara, namun rencana mereka kerap terhambat oleh penundaan proses persetujuan izin.

"Karena warga Aborigin memiliki sejumlah besar kerbau, Dewan Tanah Utara akan menjadi tubuh yang ideal untuk menjadi pemimpin industri," katanya.

Karenanya Teelow dan suaminya berharap Mick Pierce bisa mendampingi mereka menyusun kontrak kerjasama memanen ternak kerbau dengan warga Aborigin sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Seperti yang sudah dilakukan oleh Mick Pierce dengan organisasi lokal warga pribumi di kawasan Katherine.

sumber : abc, radio australia
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement