REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Bagaimana Twitter mengelola kontennya selama ini terus menjadi objek kritik selama beberapa waktu terakhir. Sejumlah kalangan menyarankan agar Twitter mengikuti Facebook dengan memberikan tampilan layout profil pengguna yang baru.
Namun demikian, ada satu aspek di Facebook yang tidak bisa ditandingi Twitter, yaitu tingkat keuntungannya.
Dalam laporan laba bersih yang diumumkan pekan lalu, Facebook mencetak rekor pendapatan dari iklan untuk laba kuartalan mereka.
Jeff Richardson, kepala eksekutif Facebook menilai fitur Online Circle, menjadi alasan yang jelas mengapa Facebook masih mendominasi, termasuk data pengguna yang rinci.
Namun ia meyakini Twitter masih memiliki potensi.
"Tentu saja selalu ada cara beriklan di Twitter dan menuai keuntungan, tapi harus dipikirkan secara cermat tentang mengapa melakukanitu dan apa yang akan dilakukan,” katanya.
"Anda bisa membeli trending yang dipromosikan, topik hashtag, hal-hal semacam itu. Anda harus mematikan kalau tweet anda mampu mencapai individu yang sesuai dengan target pasar anda.
Namun menurut Richardson, jika ingin membalik keadaan Twitter harus segera mengambil tindakan untuk meyakini pengiklan kalau platform mereka bisa memberikan keuntungan. Dan keputusan itu harus dilakukan segara sebelum benar-benar ditinggalkan oleh penggunanya.
"Pengguna media digital dan sosial media cenderung tidak sabaran,” katanya, belum lama ini.