REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Gulma darling pea atau swainsona, bisa ditemukan di seluruh daratan Australia dan biasanya tumbuh banyak di kawasan pertanian.
Inspektur gulma di daerah Coonabarabran, John Unwin mengatakan masalah merebaknya gulma beracun ini disebabkan oleh rantai kejadian yang unik yang terjadi pasca kebakaran. "Gulma darling pea, karena merupakan tanaman asli Australia oleh karena itu mereka tahan terhadap kebakaran seperti juga kebanyakan tanaman asli Australia yang memang tahan terhadap api/kebakaran,” katanya, belum lama ini.
"Tidak ada yang bisa menyamai ketahanan tanaman ini dan selain masalah api kita juga menghadapi masalah kekeringan,”
Dokter hewan regional di NSW Barat, Greg McCann mengatakan racun di dalam gulma darling pea ini akan mempengaruhi enzim yang terlibat dalam sistem metabolisme ternak.
"Ternak menjadi kehilangan kemampuan untuk merasakan dimana mereka berpijak, mereka menjadi limbung, terjatuh dan seperti buta karena sering menabrak benda-benda di sekitarnya,” katanya.
"Tingkah hewan ternak menjadi lucu, seperti kepalanya mendongak ke atas atau menunduk, namun kasus yang banyak terjadi di kawasan Coonabarabran adalah banyak ternak yang berkedut.
Sekarang para petani berharap hujan akan mempercepat proses pemulihan lahan di wilayah mereka.
Namun upaya membasmi gulma ini cukup merepotkan, karena berdasarkan catatan dari biro layanan Warga NSW, ada 15 jenis varietas darling pea yang masuk dalam daftar tumbuhan rentan atau terancam punah.
Pemilik lahan harus memiliki ijin dibawah UU Tumbuhan Asli Australia untuk melakukan program pembasmian gulma tersebut, dan ini berarti masalah gulma darling pea harus diatasi berdasarkan kasus per kasus.
Menggilir ternak dinilai sebagai upaya paling efektif dalam mengontrol dampak dari gulma ini, namun petani tidak memiliki banyak pilihan lokasi menggembalakan ternak pasca kebakaran.