Kamis 12 Jun 2014 17:15 WIB

Alasan SBY Jadi Guru Besar Bidang Ilmu Ketahanan Nasional

Rep: Esthi Maharani/ Red: Mansyur Faqih
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
Foto: antara
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

REPUBLIKA.CO.ID, SENTUL -- Sidang senat terbuka akademik Universitas Pertahanan Indonesia mengukuhkan Prof Dr H Susilo Bambang Yudhoyono, MA sebagai guru besar dalam bidang ilmu ketahanan nasional. Ia menjadi professor pertama di Indonesia dalam bidang tersebut. 

Ada berbagai pertimbangan SBY dikukuhkan sebagai guru besar ilmu ketahanan nasional. SBY dianggap menguasai ilmu ketahanan nasional yang diperoleh dari berbagai pendidikan militer dan nonmiliter, baik di dalam mau pun luar negeri. 

SBY juga memiliki latar belakang akademik yang diperlukan untuk menjadi guru besar. Yakni gelar master of art (MA) dari Webster University, Missouri, Amerika Serikat dan gelar doktor bidang ekonomi pertanian dari IPB. 

Penguasaan akademik di berbagai ilmu juga dibuktikan melalui karya berupa buku dan artikel. SBY juga telah memberikan kuliah umum dan orasi ilmiah di beberapa universitas ternama di dunia. 

Selain gelar akademik, SBY juga menerima gelar doktor kehormatan dari beberapa perguruan tiinggi di dalam dan luar negeri. 

SBY juga dinilai berhasil mengkonversi tacit knowledge yang dimiliki menjadi explisit knowledge. Tacit knowledge adalah ilmu yang tidak kelihatan yang sering berasal dari pengabdian dan kinerjanya sebagai presiden dalam mematangkan demokrasi di indonesia.

Hingga kontribusinya terhadap perkembangan strategi pertahanan negara. Mulai dari sisi anggaran, kebijakan industri pertahanan, hingga keberhasilan menjadikan Indonesia sebagai penjaga perdamaian dunia.  

Pengukuhan dilakukan di kampus universitas pertahanan, kompleks IPSC, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Pemberian gelar profesor kepada presiden telah sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) 40/2012 tentang pengangkatan professor/guru besar tidak tetap pada perguruan tinggi. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement