168 Petugas Siaga Jaga Pantai Kuta Bali

Red: Bilal Ramadhan

 Kamis 31 Jul 2014 05:00 WIB

 Anggota Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) menyiagakan jetski penyelamat menyusul membludaknya wisatawan ke pantai pada liburan Idul Fitri 1435 H di Pantai Kuta, Bali, Rabu (30/7).  (Antara/Nyoman Budhiana) Anggota Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) menyiagakan jetski penyelamat menyusul membludaknya wisatawan ke pantai pada liburan Idul Fitri 1435 H di Pantai Kuta, Bali, Rabu (30/7). (Antara/Nyoman Budhiana)

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR-- Sebanyak 168 petugas Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Badung, Bali, siaga menjaga pantai di tengah membeludaknya wisatawan mancanegara, nusantara dan masyarakat setempat mengunjungi pantai Kuta dan sekitarnya saat

libur Hari Raya Idul Fitri 1435 H.

"Seluruh petugas siap siaga mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, syukur hingga kini tidak ada musibah, meskipun sepekan terakhir Pantai Kuta dipadati pengunjung," kata Koordinator Balawista Kabupaten Badung I Ketut Ipel di Pantai Kuta, Kamis.

Ia mengatakan, petugas sebanyak itu tersebar pada 23 pos penjagaan di sepanjang pantai di wilayah Kabupaten Badung mulai dari kawasan Nusa Dua, Jimbaran, Kuta, Legian hingga Pantai Munggu yang berbatasan dengan Kabupaten Tabanan.

"Setiap harinya petugas sebenarnya selalu siaga, namun dalam liburan Idul Fitri yang disusul dengan cuti bersama lebih dimantapkan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung yang menikmati deburan ombak maupun yang bermain papan selancar di atas gulungan ombak yang dahyat," ujar Ketut Ipel.

Ia menambahkan, ratusan petugas yang dibagi dalam 23 pos penjagaan, untuk di kawasan Kuta dan sekitarnya masing-masing dijaga oleh tujuh hingga delapan orang dalam dua kelompok kerja yakni pagi dan sore.

Sedangkan untuk kawasan Nusa Dua dan sekitarnya masing-masing pos dijaga oleh lima hingga enam orang juga dalam dua kelompok kerja pagi dan sore. Ipel menjelaskan, pengunjung Pantai Kuta yang membeludak itu juga diimbau mematuhi rambu-rambu yang telah ditentukan, yakni dilarang mandi atau bermain air di lokasi yang dipasangi bendera merah, karena ombak di lokasi itu sangat berbahaya.

Dengan demikian petugas lebih mudah mengawasi dari menara pemantauan, walaupun pengunjung terus ramai, silih berganti sejak pagi, siang hingga sore menjelang matahari terbenam. I Ketut Ipel, pria kelahiran Kota Denpasar 55 tahun yang silam itu mendapat kepercayaan sebagai koordinator mengemban tugas kemanusiaan di Pantai Kuta yang telah mengabdikan diri selama lebih dari 26 tahun.

Hari-demi hari Ipel menjalani hidup di Pantai Kuta dan tidak terasa kalau telah mencapai lebih dari seperempat. Ia mengaku, di saat banyak wisatawan yang memadai pantai Kuta, khususnya hari raya keagamaan seperti Idul Fitri, Hari Raya Natal dan Tahun baru pihaknya harus bekerja ekstra.

"Sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam saya berada di Pantai Kuta, mengamati dari kejauhan pengunjung yang menikmati deburan ombak," ujar pria yang sudah berpengalaman membantu orang yang mengalami musibah tenggelam di pantai berpasir putih itu.

Kabupaten Badung yang menjadi pusat pengembangan kepariwisataan di Bali membentuk Badan Penyelamat Wisata Tirta dan beroperasi sejak 28 Oktober 1972. Dalam operasinya selama 42 tahun kurun waktu 1972 hingga 2014 telah menangani belasan ribu kejadian sebagian besar di antaranya berhasil diselamatkan, dan beberapa orang sisanya tidak mampu diselamatkan atau meninggal dunia.

Balawista yang dirintis I Gde Berata dalam perjalanan cukup panjang itu, kini mulai mendapat dukungan sarana dan prasarana dari pemerintah dan komponen pariwisata yang merasa terbantu dari aktivitas sosial tersebut.

Selain itu Pemerintah Kabupaten Badung mendukung sepenuhnya pembiayaan aktivitas sosial di Pantai Kuta. Badung memiliki pantai sepanjang 60 km yang membentang dari Kawasan Nusa Dua, Jimbaran, Kuta hingga Pantai Seseh perbatasan dengan Kabupaten Tabanan.

Berita Lainnya

Play Podcast X