REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Untuk mengantisipasi kekebalan terhadap antibiotik, maka Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia menyatakan bahwa antibiotika hanya diberikan kalau pasien memang membutuhkannya.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes Indonesia Tjandra Yoga Aditama mengakui, dunia saat ini sedang menghadapi masalah resistensi antimikroba (anti microbial resistance/AMR). Namun, kata dia, organisasi kesehatan dunia (WHO) telah memiliki program untuk pencegahan dan penanggulangannya.
Selain itu, antibiotika memang diberikan karena pasien terinfeksi bakteri dan memerlukannya. “Jenis antibiotika yang diberikan juga sedapat mungkin sesuai dengan pola resistensi yang ada di rumah sakit (RS) atau daerah itu,” katanya kepada Republika, di Jakarta, Selasa (25/11).
Dia menambahkan, pada pasien infeksi bakteri yang sakit berat maka antibiotika dapat diberikan dalam bentuk suntikan atau infus di RS. Sedangkan kalau infeksi terjadi akibat virus maka tidak perlu diberikan antibiotika. “Mungkin hanya perlu diberikan obat simtomatik (sesuai gejalanya),” ujarnya.
Untuk masyarakat umum, Kemenkes memiliki dua pesan. Pertama, tidak boleh mengkonsumsi antibiotika tanpa pentunjuk dokter. Kedua, antibiotika harus dimakan sampai habis sesuai aturannya. “Jangan berhenti sebelum waktunya walaupun keluhan sudah hilang,” katanya.