Senin 15 Dec 2014 16:29 WIB

Bule Mulai Ogah Berjemur di Pantai Kuta

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Joko Sadewo
Warga membersihkan sampah yang terdampar dan mengganggu wisatawan di Pantai Kuta, Bali.
Foto: Antara/Nyoman Budhiana
Warga membersihkan sampah yang terdampar dan mengganggu wisatawan di Pantai Kuta, Bali.

REPUBLIKA.CO.ID, KUTA -- Kondisi Pantai Kuta yang penuh dengan sampah membuat banyak wisatawan mancanegara (wisman) mengurungkan niatnya untuk berjemur di tepi pantai. Mereka enggan bersentuhan langsung dengan pasir pantai yang kotor.

Seorang wisman asal Norwegia, Romeyn mengaku dia kurang puas menikmati Pantai Kuta dipagi hari, terlebih disore hari. Alih-alih berjemur, Romeyn hanya berjalan-jalan di pinggir pantai.

Romeyn mengaku dia mendapatkan rekomendasi Kuta dari situs Lonely Planet. Menurutnya, dari 25 top lokasi untuk berwisata di Bali, Pantai Kuta selalu berada di posisi teratas di berbagai situs perjalanan wisata.

"Namun, sesampainya di sini, saya mendapatkan pengalaman berbeda. Semua yang kulihat ada sampah. Banyak sampah di pasir, di air, entah itu kantong plastik, kaleng, kertas, botol. Sampai-sampai sampah itu menempel di kakiku. Pantai ini kotor," katanya dijumpai Republika Online (ROL), Senin (15/12).

Dia mengaku sedikit jijik ketika terpaksa berjemur di pasir Kuta. Menurutnya, sampah di Kuta berkaitan dengan bencana sanitasi di wilayah sekitarnya. Jika kondisi yang sama terus bertahan, dia yakin tak ada turis yang mau datang kedua kalinya ke Kuta.

Pantai Kuta memang sedang penuh oleh sampah, terlebih dimusim hujan seperti sekarang ini. Berdasarkan pantauan ROL, Dinas Kebersihan dan Pertamanan setempat sudah aktif mengoperasikan mobil loader yang memunguti sampah secara otomatis di pagi hari.

Namun, sampah tetap saja datang kembali ke bibir-bibir pantai siang menjelang sore harinya. Sampah-sampah tersebut kebanyakan berasal dari sungai-sungai atau tukad di sekitar yang menghempaskan sampah ke Pantai Kuta.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
وَمَا تَفَرَّقُوْٓا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْرِثُوا الْكِتٰبَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيْبٍ
Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah kecuali setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Jika tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang mewarisi Kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad), benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentang Kitab (Al-Qur'an) itu.

(QS. Asy-Syura ayat 14)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement