Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

10 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Elite Politik Saling Maki, Pengamat: Perlu Ada Batasan

Ahad 08 Mar 2015 21:11 WIB

Rep: C85/ Red: Indira Rezkisari

Pemprov DKI Jakarta

Pemprov DKI Jakarta

Foto: Republika/Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar komunikasi politik sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Dedy Mulyana meminta pers dan media massa lebih selektif dalam melakukan pemberitaan. Belajar dari hebohnya pemberitaan DPRD vs Ahok belakangan ini, Dedy meminta agar media massa bisa menyaring informasi mana saja yang baik untuk disebarkan dan mana yang tidak.

"Media massa berperan banyak dalam pembentukan karakter masyarakat. Kasus Ahok dan DPRD yang saling maki, tentu disaksikan oleh semua masyarakat. Rakyat melihat bagaimana pejabat publik bisa mengucapkan kata tak pantas," jelasnya, Ahad (8/3).

Dedy menilai, pers dalam hal ini turut andil dalam "membuat panas keaadaan". Selain itu, efek yang lebih buruk adalah rakyat bisa jadi mencontoh pemimpin mereka yang dengan bebas saling maki atau melakukan komunikasi politik yang tidak santun.

"Harusnya memang ada batasan. Batasannya ada pada masyarakat juga," ujarnya.

Dedy juga menambahkan, kisruh antara Ahok dengan DPRD yang berujung pada terlontarnya kata-kata kasar adalah bentuk kebebasan yang kebablasan. Dedy menilai, situasi ini adalah bentuk ketidaksiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi era kebebasan berpendapat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile