REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pengamat politik Fisip Universitas Airlangga (Unair) Haryadi menilai pidato politik Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri pada acara Kongres IV PDI Perjuangan di Bali selalu memiliki konteks realitas faktualnya.
"Secara umum pidato politik Megawati memuat bingkai ke-Indonesia-an," ujar Haryadi dalam siaran persnya, Ahad (12/4), menanggapi masih munculnya gunjingan terhadap pidato Megawati.
Menurut Haryadi, semangat pidato Megawati adalah mendukung pemerintahan Jokowi yang dimandatkannya. Adapun kritik tajam terhadap kinerja kekuasaan dan realitas politik sekarang, kata dia, adalah bentuk kepedulian Megawati.
"Inilah yang sering tak dimengerti oleh para pengritiknya. Lebih kerap Megawati dikritik melulu dengan memenggal teks pidatonya," cetus Haryadi. Seakan, papar dosen politik FISIP Unair itu, teks pidato Megawati itu berdiri lepas tanpa konteks.
Menurut dia, ketika Megawati mengucapkan ada simbiosis antara kekuatan anti-partai dengan modal asing, maka ia mengilustrasikan deskripsi data kualitatifnya secara faktual.
Begitu pula, kata Haryadi, ketika ia meminta agar Presiden harus ingat janji-janjinya kepada rakyat dan taat konstitusi, maka semua berdasar konteks realitas faktual dan normatifnya.
"Jadi, alih-alih pidato Megawati dianggap penuh prasangka, tapi justru para pengritiknya lah yang berprasangka dan memang sudah anti-pati berlebih terhadap Megawati," kata Haryadi.
Untuk sebagian, kata Haryadi, sikap anti-pati terhadap Megawati itu karena iri melihat kenyataan Megawati sukses memimpin partai politik besar dan mampu memelihara konsolidasi partainya.