Sabtu 16 May 2015 23:41 WIB

Mengintip Geliat Industri Batu Bata Pasca Gempa Nepal

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Ilham
 Seorang pria menangis saat melintasi reruntuhan sebuah kuil yang hancur akibat gempa bumi di Bhaktapur, Nepal, Ahad (26/4). (Reuters/Navesh Chitrakar)
Foto: REUTERS/Navesh Chitrakar
Seorang pria menangis saat melintasi reruntuhan sebuah kuil yang hancur akibat gempa bumi di Bhaktapur, Nepal, Ahad (26/4). (Reuters/Navesh Chitrakar)

REPUBLIKA.CO.ID, BHAKTAPUR -- Kesibukan seakan tidak pernah berhenti di Pabrik Batu Bata Jaya Mayaswori di Bhaktapur, sebuah kota di pinggiran Ibukota Nepal, Kathmandu. Kebutuhan akan batu bata pun diprediksi bakal meningkat drastis pasca gempa yang mengguncang Nepal.

Pemilik pabrik, Shree Bhakta Sukhupayo memperkirakan, harga batu bata akan meningkat drastis. Jika sebelum gempa satu batu bata dihargai 17 sen, maka saat ini harga satu batu bata bisa mencapai 25 sen. Shree tidak menampik jika mulai ada peningkatan permintaan akan batu bata lantaran orang-orang sudah mulai membangun rumah dan bangunannya kembali.

Namun, Shree tidak lantas memanfaatkan situasi ini. ''Kami telah mengalami kerugian yang sangat besar akibat gempa ini. Kami juga menjadi korban. Saya harap, pemerintah bisa membuat program-program yang bisa membantu bisnis kami ini,'' kata Shree seperti dikutip Associated Press, Sabtu (16/5).

Nepal memang benar-benar porak poranda pasca diguncang gempa dua kali, termasuk gempa berkekuatan 7,8 skala richter pada bulan lalu. Berdasarkan data pemerintah, setidaknya ada 745 ribu bangunan dan rumah di seluruh Nepal yang hancur, termasuk 87.700 bangunan di Kota Kathmandu. Sekitar 40 persen bangunan di Kathmandu bahkan sudah tidak bisa dihuni lagi.