REPUBLIKA.CO.ID, SUBANG -- Ribuan nelayan asal Kabupaten Subang, Jabar, menganggur. Kondisi itu, disebabkan gelombang tinggi dan angin kencang. Sehingga, masyarakat pesisir utara tersebut tak bisa mencari nafkah.
Ketua KTNA Kabupaten Subang, Otong Wiranta, mengatakan, ribuan nelayan tersebut tersebar di sejumlah muara. Seperti, muara Blanakan, Patimban, Mayangan dan muara Ciasem. Menurut nelayan, tinggi gelombang di Samudera Indonesia saat ini mencapai 1,5 hingga 2,5 meteran.
"Gelombang tinggi itu, membahayakan nelayan," ujar Otong, kepada Republika.co.id, Selasa (16/2).
Apalagi, bagi nelayan yang menggunakan perahu ukuran tiga sampai lima grosston (GT). Nelayan Subang, mayoritas menggunakan perahu ukuran itu. Sehingga, ketimbang keselamatan mereka terancam lebih baik baik nelayan itu berhenti melaut.
Jumlah nelayan yang beroperasi di empat muara pesisir Pantura Subang ini, lanjut Otong, tak kurang dari 4.500 orang. Hampir semuanya kini terpaksa menganggur atau mencari kesibukan dengan menjadi pekerja serabutan.
"Ada yang jadi buruh tani atau kuli bangunan," ujarnya.
Ia mengharapkan, Pemkab Subang memberikan bantuan pinjaman usaha berjangka buat para nelayan. Khususnya, pada saat masa jeda selama tiga-empat bulan kedepan. Mengingat, kwartal pertama di 2016 ini akan menjadi musim paceklik bagi nelayan.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Subang, Mery Meryam, mengatakan, berdasarkan hasil pendataan pihaknya, para nelayan yang biasa beroperasi di empat muara Subang tersebut sebanyak 6.500 orang.
Jumlah tersebut disatukan dengan nelayan asli dan nelayan andon (netap sementara).
LNelayan asli Subangnya 4.500 orang dan yang andon asal daerah Indramayu, Brebes dan Rembang, sebanyak 2.000 orang," ujarnya.
Akibat tak melaut itu, pasokan ikan ke tempat-tempat pelelangan ikan (TPI) menjadi seret. Sedangkan, untuk bantuan pinjaman berjangka, pihaknya belum bisa memutuskan. Mengingat, harus dilihat dulu kondisi anggarannya.