Kamis 11 Aug 2016 08:10 WIB

Transparansi dan Akuntabilitas Jadi Nilai Lebih Zakat Dibanding Pajak

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Nur Aini
Zakat.  (ilustrasi)
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Zakat. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Zakat dinilai memiliki kelebihan dibandingkan pajak yakni terkait transparansi dan akuntabilitas. Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, menilai orang Indonesia seperti semakin berat mengeluarkan uang untuk pajak, tapi sangat mudah saat berzakat. Padahal, pajak merupakan kewajiban mutlak seorang warga negara.

"Kuncinya transparansi dan akuntabilitas, kalau pajak bisa dua itu meningkatkan kepatuhan tidak perlu tax amnesty," kata Enny, Rabu (10/8).

Ia menilai, apa yang dikerjakan lembaga-lembaga zakat atas dana yang diperoleh selama ini terbilang konkret, serta dapat dilihat kejelasannya dengan mudah. Sedangkan, konsep ekonomi yang dilakukan pemerintah lewat pajak seperti kontraproduktif, mengingat semakin bertambah dana yang masuk justru memperbanyak jumlah orang miskin.

Menurut Enny, pemerintah seharusnya belajar mengemban amanah dari rakyat, setidaknya dengan mulai membangun sistem yang baik dan mengarah ke tujuan. Karena, selama ini sistem yang ada memang terbilang sangat rumit dan tidak jelas, bahkan untuk orang yang dengan suka rela ingin membuat Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Untuk itu, ia meminta pemerintah mau memperbaiki diri dan sistem yang ada, apabila tidak mau dianggap tidak mampu mengemban amanat undang-undang. Enny menambahkan, masyarakat yang mendapatkan kejelasan tentu akan mudah membayar pajak dengan sendirinya, seperti mereka dengan senang hati mengeluarkan uang untuk zakat.

"Seorang petani yang tidak menanam jagung bukan tidak bisa menanam jagung, mereka cuma merasa tidak bisa diuntungkan dengan menanam jagung," ujar Enny.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement