REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Kepolisian New York membantah adanya unsur kejahatan berlandaskan kebencian atau hate crime dalam insiden pembakaran pakaian Muslimah beberapa waktu lalu.
Keputusan itu diambil kepolisian setelah menghubungkan insiden pembakaran Muslimah dengan insiden lain yang serupa. Polisi menduga pria pembakar pakaian Muslimah itu merupakan bagian dari kelompok tertentu.
Selain itu, kepolisian mengatakan aksi pembakaran terjadi sehari sebelum berlangsungnya peringatan ke-15 dari kejadian runtuhnya gedung WTC pada 11 September 2001. Kepolisian menduga pelaku terpancing oleh pakaian korban yang menonjolkan simbol Islam.
"Motif dari kejahatan ini bukan dilandaskan pada kebencian. Kita temukan tiga perempuan lain yang diancam menggunakan api oleh kelompok tertentu ini, dan para perempuan itu tak mengenakan pakaian Muslimah," kata kepolisian New York dalam pernyataan resminya seperti dilansir dari situs berita Amerika, Metro, Kamis (15/9).
Diketahui, pembakaran pakaian itu terjadi pada Muslimah berusia 35 tahun yang sedang berbelanja. Meski tak menderita luka, Muslimah yang enggan disebut namanya ini merasa amat terkejut atas kejadian tersebut. Pasalnya, ia tiba-tiba merasakan ada bagian yang panas di tubuhnya. Seketika itulah ia sadar bahwa pakaiannya tengah terbakar. Sayangnya, hingga kini belum ada satu pun yang ditahan terkait insiden itu. Rizky Surya