Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

 

6 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Keutamaan Syukur

Selasa 08 Nov 2016 01:48 WIB

Red: Agus Yulianto

Nasaruddin Umar

Nasaruddin Umar

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh, Prof Dr Nasaruddin Umar MA *)

 

Dalam kesempatan yang sangat berkah ini izinkan saya mengajak kepada kita semua untuk bersama-sama bersyukur kepada Allah SWT. Puncak kesyukuran kita karena kita diciptakan sebagagi manusia dengan segala keagungannya. Manusia satu-satunya makhluk yang diciptakan langsung dengan 'kedua Tangan Tuhan' (Khalaqtu bi yadayya/Q.S. Shad/38:75). Tidak satupun makhluk-Nya, termasuk malaikat, yang di-taqyid-kan dengan dua Tangan Tuhan selain manusia. Seolah-olah manusi satu-satunya yang menjadi “hand made” Allah SWT dengan segala kesempurnaannya.

Dalam kitab-kitab Tafsir Isyary, 'dua tangan Tuhan' difahami sebagai kualitas keagungan (jalaliyyah) dan kualitas keindahan (jamaliyyah), atau kualitas maskulin dan feminine. Kedua kualitas ini menyatu secara utuh di dalam diri manusia. Itulah sebabnya manusia satu-satunya makhluk eksistensialis, yang bisa turun naik martabatnya di sisi Allah SWT. Manusia bisa menjadi makhluk termulia (ahsan taqwim/Q.S. al-Tin/95:4), bahkan bisa mlampaui kemampuan malaikat, seperti pengalaman Isra’-Mi’raj Nabi mencapai puncak Sidrah Muntaha. Sebaliknya, manusia juga bisa menjadi makhluk paling hina (asfala safilin/QS al-Tin/95:5), bahkan lebih hina dari binatang (ulaika ka al-an’am bal hum adhall/Q.S. al-A‘raf/7:179).

Sebagai makhluk eksistensialis, manusia harus bersedia menjalani kehidupannya di antara harapan (raja') dan kecemasan (khauf). Terkadang ia berperasaan jauh dengan Tuhan (tanzih) dan terkadang pula berperasaan dekat (tasybih), bahkan merasa menyatu dengan Tuhan (ittihad). Itulah manusia, senantiasa dibayangingi mix feeling dan fluktuasi kehidupan. Kadang ia tertawa dan kadang menangis.

Manusia juga satu-satunya makhluk yang ditiupkan atau di-install ke dalamnya roh suci (ciptaan) Tuhan (wa nafakhtu fihi min ruhi/QS al-Hijr/15:9). Itulah sebabnya, manusia dalam pandangan  Alquran sangat mulia, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: (Walaqad karramna bani Adam/Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam/QS Al-Isra'/17:70). Siapa pun yang merasa anak cucu Adam, tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, agama, harus dimuliakan. Bahkan jasadnya kalau sudah menjadi mayat juga harus dimuliakan karena: Al-Mayyit haqqullah/Mayat itu hak Allah Swt). Mengurus jasad mayat adalah fardhu kifayat.

Selain kemuliaan dari segi penciptaan, manusia juga disempurnakan dengan penganugrahan akal pikiran (intellect), kalbu (intuition), jiwa (pshichis), dan roh (spirit). Satu-satunya makhluk yang bisa dikategorikan makhluk mikrokosmos (al-‘alam al-shagir) hanyalah manusia, karena hanya manusia yang bisa menghimpun keseluruhan substansi alam semesta.

Manusia memiliki unsur tanah sebagai basic creations, memiliki unsur tumbuh-tumbuhan (nabatiyyah), unsur hewan (hayawaniyyah), unsur kesucian (fithriyyah) seperti dimiliki malaikat, bahkan mempunyai roh suci (divine creation), yang tidak dimiliki oleh makhluk manapun. Manusia dalam pandangan sufi sering disebut sebagai al-jam’iyyah al-katsrah.

Mungkin karena kelengkapan dan keunikan manusia, maka Allah SWT membebankan kapasitas dan tanggung jawab ganda kepadanya, yaitu selain sebagai hamba (al-‘abid) juga sebagai pemimpin (khalifah) di muka bumi ini. Untuk mendukung kapasitas manusia sebagai khalifah, maka Allah SWT menundukkan (taskhir) seluruh alam semesta kepadanya:  "Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS al-Jatsiyah/45:13).

Namun perlu diingat, meskipun manusia memiliki berbagai keunggulan, termasuk penyandang kapasitas sebagai khalifah di bumi (khalif al-ardh), manusia tidak lantas harus berbangga dan bebas melakukan perbuatan melampaui batas. Sebagai makhluk, manusia masih tetap memiliki kelemahan fundamental yang perlu selalu disadari. Misalnya, manusia adalah makhluk pelupa (al-gafil/QS al-Nahl/16:108), makhluk emosional (al-mugadhib/QS al-Anbiya’/21:87), makhluk berkeluh kesah (al-jazu’/QS al-Ma’arij/70:20), dan berbagai kelemahan lainnya.  

Konsep taskhir (penundukan alam semesta) dalam Alquran mempunyai prasyarat. Alam raya tunduk (taskhir) sepanjang manusia menjalankan fungsi kekhalifahannya dengan benar. Manakala manusia melakukan eksplorasi alam yang melampaui ambang daya dukungnya, dan sesama manusia saling menebar fitnah,  maka tidak ada jaminan alam semesta akan tunduk kepadanya. Allah SWT menegaskan: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia," (QS al-Rum/30:41).

Kesyukuran kita yang kedua ialah Allah SWT memberikan jalan keluar untuk mengatasi berbagai kelemahan mendasar manusia dengan menurunkannya Kitab Suci. Bagi kita yang beragama Islam Kitab Suci Alquran amat sangat penting dan sangat sentral bagi manusia. Kitab Suci Alquran bagi umat Islam  bukan hanya sebagai sumber informasi untuk menunjukkan jalan kehidupan baik dan buruk, benar dan salah, tetapi juga sebagai sumber konfirmasi dan referensi untuk menguji kebenaran yang ditemukan oleh akal dan intuisi manusia. Tanpa Alquran banyak kebenaran tidak bisa tersingkap.

Bagi umat Islam, Alquran adalah kebenaran sejati sekaligus pandangan hidup. Bahkan dalam keyakinan teologi umat Islam, Alurqan bukan hanya kodifikasi firman Allah tetapi juga sekaligus sebagai perwujudan Kalam Allah (The Speech of God). Dengan kata lain, Alquran bukan hanya Kitabullah tetapi sekaligus Kalamullah. Bagi umat Islam, kesucian Alquran tidak hanya terleptak pada aspek non-fisiknya yang trannsenden, tetapi juga wujud fisiknya berupa mushaf. Alurqan sendiri menegaskan dirinya tidak bisa disentuh kecuali dalam keadaan bersih (La yamassuhu illa al-muthahharun/QS al-Waqi’ah/56:79). Mengingat kompleksitas Alquran tersebut, maka idealnya, biarkanlah umat Islam menyelesaikan urusan Alquran-nya sendiri, sebagaimana agama-agama lain juga mengurus kitab sucinya masing-masing.

Sebagaimana halnya umat agama lain, sangat wajar jika umat Islam tersinggung dan marah jika ada orang secara sengaja mendesakralisasi, apalagi menghina Kitab Suci Alquran. Namun di dalam mengekspresikan ketersinggungan dan kemarahan, secara eksplisit Alqurqan mengingatkan tidak perlu melakukan sesuatu yang melampaui batas: "Wa la tusrifu inna Allah la yuhibb al-musrifun/Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan". (QS al-An’am/6:141). Dalam ayat lain ditegaskan: "Wa la tuthi’ al-musrifun/Dan janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas." (Q.S. al-Syura/26:151). Aluran selanjutnya mengingatkan kita dalam sebuah ayat bahwa Ia sendiri akan terlibat di dalam memelihara Alquran: "Inna Nahnu nazzalna al-Zikra wa Inna lahu lahafizhun/Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya," (QS al-Hijr/15:19).

Kesyukuran kita yang ketiga, Allah SWT mengutus Nabi dan sekaligus Rasul untuk memberikan penjelasan terhadap Kitab Suci-Nya (al-Mubayyin al-Qur’an). Banyak informasi dan khithab di dalam Alquran bersifat global (mujmal) perlu penjelasan (mufashshal), bersifat umum (‘am) perlu penjelasan khusus (takhshish), dan bersifat absolut (muthlaq) perlu penegasan (muqayyad).

Bagi umat Islam, Nabi Muhammad adalah lambang kasih sayang Allah SWT. Kita tidak mungkin memahami seutuhnya Kitab Suci Alquran tanpa penjelasan Rasul-Nya. Bahkan Nabi Muhammad SAW menempatkan diri sebagai teladan (uswatun hasanah) di dalam menjabarkan nilai-nilai Alquran, sebagaimana diungkapkan Sayyidatina ‘Aisyah ra: "Kana khulquhu Al-Qur’an." (Akhlak Rasulullah adalah Alquran). Adalah juga sangat wajar jika umat Islam sangat mencintai beliau. Tentu sangat wajar ummatnya  tersinggung jika ada orang yang menghina atau melecehkan Nabi mereka. Termasuk pelecehan Nabi jika ada yang mengaku Nabi atau Rasul sesudah wafatnya.

Kesyukuran kita yang keempat ialah kehadiran para ulama sebagai ahli waris intelektual dan spiritual Nabi, sebagaimana diseutkan dalam hadis: 'Al-‘ulama’ waratsah al-ambiya’". Para ulam menempati posisi sebagai 'penyambung lidah' Nabi di dalam menyampaikan nilai-nilai luhur Islam. Dalam tradisi intelektual Islam, posisi ulama atau mursyid di tengah murid atau umatnya betul-betul sangat sentral. Ada qaul mengatakan: "Al-mursyid amam al-murid ka al-Nabiyyi amam al-shahabah" (Ulama di depan umatnya bagaikan nabi di depan para sahabatnya). Adalah wajar jika umat Islam mencintai dan menyayangi ulama dan habaib mereka, dan tentu juga wajar umatnya tersinggung jika mereka dihina, karena mereka sadar, bagaimana mungkin ajaran luhur Islam bisa merasuk ke dada mereka tanpa kehadiran ulama.

Kesyukuran kita yang keempat ialah kehadiran umara (Pemerintah). Jika tidak ada pemerintah yang legitimed dan berdaulat, tentu sulit dibayangkan kita bisa menjalankan dengan baik tugas kita sebagai hamba dan khalifah. Kita harus bersyukur dan sekaligus berkewajiban, baik sebagai umat maupun sebagai warga bangsa, untuk memelihara dan mempertahankan eksistensi pemerintah kita sebagai ulil amr.

Banyak saudara-sauada kita yang seiman ditempat lain tidak bisa tenang menikmati indahnya bulan suci Ramadhan dan menjalankan ibadah dengan khusyuk karena mereka dilanda peperangan. Adalah wajar jika kita sebagai umat maupun sebagai warga bangsa tersinggung jika ada pihak luar meronrong kewibawaan pemerintah dan NKRI kita.

Sinergi ideal antara ulama, umara, dan rakyat itulah sesungguhnya yang disebut kairah ummat (umat ideal). Ada imam atau pemimpin yang berwibawa, ada makmum atau rakyat yang santun, ada imamah atau konsep kepemimpinan yang mengatur hubungan efektif antara imam dan ma’mum, dan ada ummi (Hebrew: rasa cinta atau ikatan batin yang mengikat satu sama lain). Kita berharap, dan sekaligus memohon kepada Allah SWT, semoga senerji antara ulama dan umara, tentunya juga kita sebagai umat dan warga bangsa, selalu terjalin kedamaian dan ketenteraman (baldatun thayyibah wa Rabbun gafur). Ihdina al-shirath al-mustaqim, shirath al-ladzuna an’amta ‘alaihim, gair al-magdhub ‘alaihim wa la al-dhalin.

*) Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile