REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Luar Negeri Muhyiddin Junaidi mengatakan, kekuasaan sebenarnya di Myanmar masih dipegang oleh junta militer. Junta militer menguasai logistik, ekonomi, sumber daya mineral.
"Ini membuat Aung San Suu Kyi sebagai pemimpin Myanmar tak bisa berbuat apa-apa. Sampai sekarang, Suu Kyi masih diam dan tak bisa berbuat apa-apa meski ada kekerasan di Rakhine terhadap suku Rohingya," katanya, Rabu, (14/12).
Kelompok Budha ekstrimis di Myanmar berkolaborai dengan junta militer untuk membunuh Muslim Rohingya. Suu Kyi tak bisa berbuat apa-apa meski hal ini terjadi.
Budha ekstrimis di Myanmar, kata Muhyiddin, tak ingin Myanmar menjadi negara Muslim, makanya suku Rohingya ditekan luar biasa. Mereka beralasan dulu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam agama penduduknya Budha, namun begitu Islam datang mereka memeluk Islam dan menjadi Muslim.
"Kami pernah mengundang ekstrimis Budha Myanmar, Asin Wirathu untuk datang ke Indonesia. Kami ingin menunjukkan bagaimana umat Muslim Indonesia melindungi Candi Borobudur yang merupakan candi Budha," kata Muhyiddin.
Indonesia perlu mengajarkan transisi demokrasi yang baik kepada Myanmar. Termasuk melindungi HAM kaum minoritas Rohingya di Myanmar.
"Saat ini saudara-saudara sesama Muslim kita di Myanmar, suku Rohingya sedang dizolimi. Kita berkewajiban membantu Muslim Rohingya," ujarnya.