REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani setuju bekerjasama untuk mengakhiri krisis di Suriah. Mereka membicarakan kerja sama tersebut melalui sambungan telepon pada Sabtu, (31/12).
Kedua presiden tersebut sepakat untuk bekerja sama menyukseskan pembicaraan damai Suriah di Kota Astana, Kazakhstan. Hal ini disampaikan oleh Kremlin.
Observatorium berbasis di Inggris menyatakan, level pertempuran antara Pemerintah Suriah dengan kelompok oposisi telah menurun. Ini menunjukkan jika gencatan senjata dalam keadaan cukup aman dan masih bisa dijalankan.
Faksi-faksi di Free Syrian Army (FSA) menyatakan, pemerintah dan kelompok oposisi rupanya menandatangani dua versi perjanjian damai yang berbeda. Dalam perjanjian itu salah satunya kehilangan sejumlah poin penting dan poin kunci yang tak bisa dinegosiasikan.
Gencatan senjata ini merupakam gencatan senjata pertama yang tak melibatkan Amerika Serikat atau PBB. Dewan Keamanan PBB menyambut baik gencatan senjata tersebut dan meminta FSA tak langsung sepakat dengan Pemerintah Suriah dan Rusia kecuali jika mereka menunjukkan kalau mereka menghargai gencatan senjata tersebut.
Perang Suriah telah menewaskan lebih dari 300.000 orang dan membuat lebih dari 11 juta orang Suriah tak memiliki rumah. Meskipun gencatan senjata sukses dilakukan antara Pemerintah Suriah dengan kelompok oposisi bersenjata namun konflik akan terus berlangsung.