Sabtu 11 Feb 2017 07:17 WIB

PBB: 1,5 Juta Penduduk Sudan Selatan Mengungsi

Penduduk Sudan Selatan
Foto: Reuters
Penduduk Sudan Selatan

REPUBLIKA.CO.ID, JUBA -- Pertempuran sengit di Sudan Selatan telah memaksa 1,5 juta orang meninggalkan negeri itu serta mencari keselamatan sejak konflik meletus pada Desember 2013, kata Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR), Jumat (10/2). UNHCR di dalam satu pernyataan mengatakan bahwa 1,2 juta orang lagi kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi di negara termuda di dunia tersebut tanpa harapan penyelesaian.

"Dengan pengungsian sebanyak ini, Sudan Selatan sekarang menghadapi krisis pengungsi terbesar di Afrika dan yang ketiga di dunia setelah Suriah dan Afghanistan --sementara tak banyak perhatian diberikan dan kondisi kronis kurang mendapat dana," kata UNHCR.

Pertempuran meletus di dalam negeri Sudan Selatan pada Juli 2016, setelah macetnya proses perdamaian ataran pasukan oposisi dan pemerintah. Badan PBB tersebut mengatakan lebih dari 760 ribu pengungsi meninggalkan negeri tersebut pada 2016, sementara konflik bertambah sengit pada semester kedua tahun itu, dan rata-rata 63 ribu orang dipaksa meninggalkan negeri tersebut setiap bulan.

"Setengah juta orang harus menyelamatkan diri selama empat bulan belakangan," kata UNHCR. 

Ditambahkan UNHCR, lebih dari 60 persen pengungsi adalah anak kecil, banyak di antara mereka tiba dalam kondisi gizi buruk yang menyedihkan. Anak-anak itu dipaksa menanggung dampai kekejaman konflik yang berkecamuk.

"Kami menyeru semua pihak yang terlibat dalam konflik tersebut agar segera menyelesaikan secara damai krisis ini. Tanpa penyelesaian, ribuan orang terus berdatangan ke negara tetangga Sudan Selatan, seperti Uganda, Ethiopia, Sudan, Kenya, Republik Demokratik Kongo dan di Republik Afrika Tengah, setiap hari sementara konflik kini memasuki tahun keempatnya," kata badan PBB tersebut.

Kebanyakan pengungsi ditampung oleh Uganda, tempat sebanyak 698 ribu orang telah tiba. Ethiopia menampung tak kurang dari 342 ribu pengungsi, sementara lebih dari 305 ribu orang berada di Sudan dan sebanyak 89 ribu di Kenya, 68 ribu di Republik Demokratik Kongo dan 4.900 di Republik Afrika Tengah.

Menurut UNHCR, pengungsi datang belum lama ini melaporkan penderitaan mereka di dalam wilayah Sudan Selatan, tempat merebaknya pertempuran sengit, penculikan, perkosaan, ketakuran terhadap kelompok bersenjata dan ancaman keselamatan, serta kekurangan pangan akut. "Pada 2017, kami meminta 782 juta dolar AS bagi operasi regional di dalam Sudan Selatan dan negara tetangga penampung pengungsi," katanya.

Mereka yang menyelamatkan diri dari Sudan Selatan kini ditampung oleh masyarakat paling miskin di negara tetangga, yang menghadapi tekanan berat karena kelangkaan sumber daya. UNHCR menyatakan lembaga itu sangat mengkhawatirkan kurangnya sumber daya untuk menangani krisis pengungsi terbesar di dunia tersebut.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement