Kamis 30 Mar 2017 13:33 WIB

Novel Baswedan tak Lihat Miryam dalam Kondisi Tertekan

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Bilal Ramadhan
Saksi kasus dugaan korupsi pengadaan proyek e-KTP Miryam S Haryani usai memberikan keterangan saat sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (30/3).
Foto: Republika/ Wihdan Hidayat
Saksi kasus dugaan korupsi pengadaan proyek e-KTP Miryam S Haryani usai memberikan keterangan saat sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (30/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tiga penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi dihadirkan dalam sidang kasus KTP-el pada Kamis (30/3). Salah satu penyidik itu adalah Novel Baswedan. Dalam kesaksian tersebut, Novel menyatakan tidak ada tekanan yang dilakukan penyidik KPK saat memeriksa Miryam. Pemeriksaan dilakukan sesuai dengan prosedur dengan model tanya-jawab.

"Terkait miryam, pemeriksaan dilakukan dengan bertanya dan Bu Miryam menjelaskan. Saat bertanya, saya juga mencatat beberapa hal. Dan ibu Miryam diminta untuk menulis apa-apa yang diterangkan itu," kata Novel di hadapan majelis hakim, Kamis (30/3).

Setelah itu, keterangan tersebut barulah dituangkan ke dalam Berita Acara Pemeriksaan. Setelah BAP selesai dibuat, Novel mengatakan meminta kepada Miryam untuk membaca kembali melakukan koreksi terhadap apa yang tertuang dalam BAP.

Novel memaparkan ruangan untuk pemeriksaan terhadap Miryam seperti pada umumnya. Ada meja di tengah, saksi dan penyidik saling berhadapan. Komunikasi penyidik kepada Miryam pun dilakukan dengan sebaik mungkin agar membuat nyaman pihak yang diperiksa.

Penyidik KPK lain yang turut dihadirkan, Muhamad Irwan Susanto mengatakan dalam pemeriksaan pertama terhadap Miryam, ia tidak melihat bahwa politikus Partai Hanura itu dalam kondisi tertekan saat diperiksa di KPK.  "Yang bersangkutan saat datang itu senyum, tertawa, dan santun," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement