DPR: Daya Literasi Indonesia Kalah dari Malaysia dan Singapura

Ahad , 23 Apr 2017, 16:48 WIB
Ketua Komisi X DPR Teuku Riefky Harsya.
Foto: dpr
Ketua Komisi X DPR Teuku Riefky Harsya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi X DPR Teuku Riefky Harsya mengatakan, daya literasi masyarakat Indonesia masih tertinggal beberapa tingkat dari Singapura, Thailand dan Malaysia. Untuk itu, Komisi X DPR akan mendorong agar rancangan undang-undang (RUU) tentang Sistem Perbukuan bisa disahkan sebelum akhir masa sidang IV tahun 2016-2017.

Teuku Riefky mengatakan, berdasarkan data Unesco menunjukkan minat baca bangsa Indonesia berada pada angka 0,001 yaitu hanya ada 1 orang yang membaca per 1.000 penduduk.

"Sementara data World’s Most Literate Nations tahun 2016, menunjukkan bahwa daya literasi Indonesia menempati  posisi 60 dari 61 negara, yaitu satu tingkat di atas Bostwana dan kalah beberapa tingkat dari negara-negara ASEAN, seperti Singapura, Thailand dan Malaysia," ujarnya dalam keterangan pers, Ahad (23/4).

Politikus Demokrat itu melanjutkan, potret minat baca yang rendah pada sebagian masyarakat Indonesia tersebut, masih menjadi isu pembangunan kapasitas SDM Indonesia dalam rangka menyiapkan masyarakat berbasis pengetahuan.

Oleh karena itu, Riefky mengatakan DPR RI selaku lembaga legislatif memandang perlu bahwa perbukuan harus diperkuat dan diatur dalam sebuah undang-undang yang memiliki konsep dan arah kebijakan mewujudkan buku yang terjamin dari segi mutu, dari segi keterjangkauan harga dan dari segi akses yang merata.

"RUU tentang Sistem Perbukuan merupakan landasan hukum (legal standing) kebijakan perbukuan yang mendorong diperlukan politik anggaran perbukuan yang difokuskan pada penyediaan buku yang bermutu, murah dan merata," jelasnya.

Namun, Riefky menilai peningkatan minat baca tidak bisa dicapai hanya dari sisi Pemerintah yang membuat kebijakan, tetapi merupakan kerja sama seluruh elemen masyarakat.

"Jika dikaitkan dengan substansi RUU tentang Sistem Perbukuan, maka peran serta pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan pelaku perbukuan untuk menciptakan dan memajukan ekosistem perbukuan yang sehat," katanya.

Ia menambahkan, ekosistem perbukuan merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya Sistem Perbukuan yang sehat untuk menghasilkan buku bermutu, murah, dan merata yang ditandai dengan interaksi positif antar pemangku kepentingan perbukuan dalam membangun dan meningkatkan budaya literasi.