Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

13 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Petani Indramayu Gunakan Pompanisasi untuk Atasi Kekeringan

Ahad 21 May 2017 01:42 WIB

Rep: Lilis Handayani/ Red: Andi Nur Aminah

 Seorang petani, Idrus (67) membersihkan sawahnya yang mengalami kekeringan di Desa Lubuk Puar, Padangpariaman, Sumbar. Akibat rusaknya hulu irigasi dan musim kemarau, ratusan hektare sawah di kecamatan itu terancam gagal panen.

Seorang petani, Idrus (67) membersihkan sawahnya yang mengalami kekeringan di Desa Lubuk Puar, Padangpariaman, Sumbar. Akibat rusaknya hulu irigasi dan musim kemarau, ratusan hektare sawah di kecamatan itu terancam gagal panen.

Foto: ANTARA

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Musim hujan yang mulai berakhir di Kabupaten Indramayu telah membuat areal tanaman padi di sejumlah kecamatan kekurangan air. Untuk mengatasinya, para petani terpaksa menyedot air dengan menggunakan mesin pompa.

 

"Sudah seminggu terakhir ini hujan tak pernah turun lagi. Air irigasi dari Bendung Rentang sekarang juga sedikit sehingga tidak bisa menjangkau seluruh areal persawahan," ujar Wakil Ketua KTNA Kabupaten Indramayu, Sutatang kepada Republika.co.id, Ahad (21/5).

 

Sutatang mengatakan, kesulitan air untuk areal persawahan itu di antaranya terjadi di Kecamatan Balongan, Juntinyuat, Karangampel dan Kedokanbunder. Umur tanaman padi di kecamatan-kecamatan itu rata-rata baru 10 hingga 20 hari.

 

Menurut Sutatang, areal sawah tersebut selama ini mendapat pengairan dari Saluran Induk (SI) Sindupraja, yang bersumber dari Bendung Rentang, di Kabupaten Majalengka. Daerah-daerah itu, posisinya paling ujung dari layanan saluran irigasi.

 

Untuk mengatasi kekurangan air tersebut, para petani di sejumlah daerah itu terpaksa menggunakan pompanisasi. Mereka menyedot air dari saluran pembuang untuk mengairi areal persawahan yang mulai mengering. "Kalau tidak segera diairi, tanaman padi bisa mati kekeringan," terang Sutatang.

 

Sutatang mengakui, pompanisasi memaksa petani untuk merogoh kocek lebih dalam. Selain untuk membeli bensin sebagai bahan bakar mesin pompa, pengeluaran pun bertambah untuk membayar upah pekerja. Bahkan bagi yang tak punya mesin pompa sendiri, terpaksa harus menyewanya.

"Lamanya penyedotan air tergantung tingkat kekeringan di sawahnya. Kalau tak terlalu parah, sehari semalam sudah cukup. Tapi kalau tanahnya sudah retak-retak, maka harus berhari-hari," kata Sutatang.

 

Salah seorang petani di Kecamatan Kedokanbunder, Sardi, mengatakan, pompanisasi terpaksa dilakukan karena hujan sekarang sudah berhenti dan pasokan air dari irigasi mulai berkurang. Akibatnya, air tidak bisa mencapai areal persawahannya.

 

Untuk mengairi areal sawah milik Sardi, dibutuhkan penyedotan air selama dua hari. Untuk penyedotan air menggunakan mesin pompa itu, dibutuhkan premium sekitar tujuh sampai sepuluh liter per hari. "Itu belum termasuk upah pekerjanya. Kalau mesinnya sih saya punya sendiri," kata Sardi.

 

Sardi mengatakan, penyedotan air tak cukup dilakukan sekali. Selama musim tanam hingga panen, dibutuhkan sedikitnya lima kali penyedotan. "Tapi tergantung pasokan air di irigasi. Kalau airnya ada, penyedotan bisa dikurangi. Tapi kalau kering, ya bisa lebih," kata Sardi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile