Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

 

4 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Konsumsi Terigu Saat Lebaran Diprediksi Naik Hingga 15 Persen

Kamis 25 May 2017 14:39 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Andi Nur Aminah

Pedagang terigu

Pedagang terigu

Foto: Musiron/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Konsumsi tepung terigu saat Ramadhan dan Lebaran diprediksi mengalami kenaikan sebesar 10 hingga 15 persen dibandingkan hari biasa. Pertumbuhan penjualan tepung terigu secara nasional rata-rata mengalami peningkatan enam persen per tahun.

 

VP Commercial Bogasari Area Indonesia Timur Ivo Ariawan Budiprabawa mengatakan, lonjakan konsumsi tepung terigu saat Lebaran setiap tahunnya di kisaran 10 hinga 15 persen. Segitiga Biru dan Kunci Biru menjadi dua produk Bogasari yang paling laris menjelang Lebaran. Segitiga Biru merupakan produk serbaguna untuk segala makanan dan kue-kue tradisional. Sedangkan Kunci Biru merupakan bahan pembuat segala jenis kue kering, cake, dan goreng-gorengan.

"Kue kering dan cake untuk lebaran banyak permintaanya. Kalau UKM-UKM kita mulai Februari-Maret sudah produksi untuk Lebaran," jelas Ivo kepada wartawan di sela-sela pelatihan memasak di Bogasari Baking Center Surabaya, Rabu (24/5).

Menurutnya, total penjualan dua produk tersebut bisa mencapai 60 persen dari penjualan Bogasari selama menjelang Ramadhan. Sebagian besar konsumen Bogasari dari segmen UKM mencapai 60 persen, sisanya industri besar dan rumah tangga masing-masing 20 persen. "Kami harapkan penjualan Bogasari sampai akhir tahun pertumbuhannya sesuai pasar. Strategi kami melalui BBC dan juga memastika barang kami tersedia di pasar serta konsistensi kualitas," imbuhnya.

Ivo menambahkan, pertumbuhan penjualan tepung terigu dipengaruhi budaya, pola makan, pertumbuhan penduduk juga faktor ekonomi di suatu negara. Ia mencontohkan Malaysia dan Singapura yang mencatatkan konsumsi tepung terigu per kapira per tahun sekitar 30 kilogram. Artinya setiap orang di dua negara tersebut makan 30 kilogram terigu per tahun. Konsumsi terigu di Indonesia, kata Ivo, masih di kisaran 18 kilogram per kapita per tahun.

"Kenapa begitu, kalau kita lihat Singapura secara ekonomi lebih matang. Pertumbuhan konsumsi terigu karena terigu pada prinsipnya lebih praktis. Bikin mie cepat, bikin roti cepat. Juga dipengaruhi anak muda lebih mudah menerima jenis makanan baru. Banyak variasi dihasilkan dengan terigu, terutama mie," paparnya.

Saat ini, terdapat 30 produsen tepung terigu di Tanah Air. Total kapasitas yang terpasang untuk menggiling gandum dari 30 pabrik tersebut mencapai 13 juta metrik ton. Sementara konsumsi gandum nasional sekitar enam juta ton per tahun. Gandum yang digiling hanya 74 persen yang menjadi tepung terigu.

Bogasari memiliki dua pabrik masing-masing di Jakarta dan Surabaya. Total kapasitas produksi dua pabrik tersebut sebesar 15 ribu per hari gandum giling atau mencapai 3,2 juta ton per tahun. Namun utilisasinya baru sekitar 60 persen. Artinya, gandum yang digiling Bogasari sekitar 2 juta ton per tahun. Pasar Bogasari di wilayah Indonesia Timur mencapai 18 persen dari seluruh penjualan Bogasari.

Ivo mengakui, masyarakat kerap salah memilih tepung. Masing-masing produk Bogasari memiliki kadar protein berbeda. Cakra Kembar memiliki protein tinggi, Segitiga Biru protein sedang, dan Kunci Biru protein rendah. Sehinga kegunaannya juga berbeda. "Makanya Bogasari Backing Center ini membantu konsumen untuk bisa mengerti dan membedakan biar tidak keliru. BBC melayani baik UKM maupun konsumen rumah tangga terkait masalah yang mereka hadapi," ungkapnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile