Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

 

2 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Potensi Ekonomi Industri Makanan Capai Rp 1.500 T per Tahun

Jumat 22 Sep 2017 23:25 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Andi Nur Aminah

iIustrasi pertumbuhan industri makanan dan minuman.

iIustrasi pertumbuhan industri makanan dan minuman.

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Bidang Kimia Pangan dari Wiratama Institute, Stessy Dwijuliandri Gultom mengatakan potensi ekonomi dari industri makanan di Indonesia mencapai angka fantastis yakni Rp 1.500 triliun per tahun. Angka itu diproyeksikan dari pertumbuhan omzet industri makanan di Indonesia hingga semester pertama 2017, yang mencapai angka Rp 1.400 triliun.

 

"Peluang bisnis dalam industri makanan amatlah menjanjikan. Industri makanan di Indonesia menjadi salah satu industri yang sangat cepat berkembang, nilainya ribuan triliun rupiah per tahun," ujar Stessy melalui keterangan tertulisnya yang diterima Republika.co.id, Jumat (22/9).

Stessy menilai perkembangan yang amat pesat dalam industri makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya, pengenalan produk, rasa dan kemasan baru, pertumbuhan kelas menengah, bertumbuhnya toko retail modern dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan.

Kesadaran akan kesehatan ini, lanjut dia, memegang peranan penting dalam perkembangan industri makanan. Bahkan terkadang dapat menentukan daya tahan dan daya saing UMKM, tentang usaha mana yang akan tetap berkembang dan mana yang akan gugur.

Pada tahun 2014 saja, dia mengatakan, nilai produk industri makanan tersebut mencapai Rp 1 triliun rupiah. Dengan nilai bahan mentah mencapai Rp 628,18 triliun. Industri makanan itu didominasi oleh pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 1,57 juta usaha, yang memperkerjakan sebanyak 3,77 juta pekerja.

Penghasilan kotor dari industri ini sebesar Rp 180 triliun rupiah per tahunnya. "Namun jika dihitung dengan total omzet yang tercipta, mencapai ribuan triliun rupiah per tahunnya," ujar Stessy.

Meski demikian, ada cara lain untuk tetap mengikuti trend yaitu dalam hal kualitas produk. Dikarenakan jumlah produksi yang tidak terlalu banyak setiap harinya, maka kesegaran bahan baku dan cepatnya produk sampai ke tangan konsumen untuk dimakan, dapat diperkirakan dengan tepat.

Walaupun UMKM harus fokus dalam mengikuti trend yang sedang terjadi di masyarakat, ia mengatakan, hal terpenting dalam menjaga eksistensi dalam industri makanan adalah proses pembungkusan. Sebab tujuan utama pembungkusan adalah untuk mencegah kontaminasi, kerusakan dan melindungi makanan dari keadaan sekitar yang dapat memengaruhinya, seperti cahaya, oksigen dan kelembaban.

Ia menambahkan, pembungkusan juga melindungi makanan dari paparan mikroorganisme dan mencegah hilangnya rasa atau vitamin. Karena itu hal yang harus diperhatikan dalam proses pembungkusan adalah higienitas.

Teknologi sangat diperlukan dalam proses ini, seperti sterilisasi menggunakan paparan sinar UV untuk mematikan mikroorganisme. Sterilisasi juga dapat memperpanjang masa berlaku produk. "Inilah sebenarnya yang menjadi tantangan bagi UMKM industri makanan," ungkap Stessy.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile