REPUBLIKA.CO.ID, SEMANGGI -- Ancaman terjadi di bekas Kantor DPP PKB Gus Dur di Jalan Kalibata Timur I No 12, Kalibata, Pancoran mendapat ancaman Kamis (10/4) siang.
Seorang penjaga kantor bernama Muhaimin menerima kiriman paket yang ternyata berisi paku dan petasan. Tidak ada nama pengirimnya, namun ada alamat pengirim yang tertuju kepada Kantor NU di Jl Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat.
Sekjen PBNU, Marsudi Syuhud merasa tidak perlu menanggapi kejadian itu. ''Buat apa ditanggapi, siapa saja bisa menulis alamat dengan bebas,'' kata dia, Jumat (11/4).
Marsudi melanjutkan, peristiwa tersebut adalah peristiwa biasa yang menunjukkan ketidakpuasan seseorang terhadap instansi tertentu. ''Yang penting bersyukur,'' kata dia.
Dia mengaku PBNU siap jika polisi melakukan penyelidikan terhadap NU mengenai ancaman tersebut. ''Itu kan memang tugas polisi,'' kata dia. Peristiwa dimulai pada Senin (7/4), ketika seorang petugas jaga bernama Muhaimin (51 tahun) menerima paket kiriman dari perusahaan jasa pengiriman sekitar pukul 13.00 WIB.
Paket tersebut ditujukan kepada Tarso (seorang simpatisan Gus Dur) dengan alamat bekas kantor DPP PKB. Karena tidak Tarso tidak ada, Muhaimin warga Duren Sawit, Jakarta Timur, menyimpan paket di meja lobby kantor. Dengan maksud akan disampaikan kepada Tarso.
Pada Kamis (10/04) sekitar 18.00 WIB, Muhaimin menemui Tarso di bekas Kantor DPP PKB Gus Dur. Muhaimin menyerahkan kirimian tersebut dan langsung membukan paket tersebut.
Paket tersebut dibungkus kardus warna coklat yang dibalut lakban warna coklat. Paket langsung dibuka dengan pisau dapur. Kemudian, setelah dibuka, ditemukan 25 buah petasan yang diikat dengan tali.
''Dan ada tulisan dikertas ''jangan kau rusak PKB hanya karena kalian tidak dapat posisi'','' kata Rikwanto.
Sekitar pukul 23.00 WIB, tim gegana memeriksa barang itu dan dapat memastikan isi paket tersebut berisi 25 kembang api, 20 paku, dan bukan bahan peledak.