REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Golkar dinilai sebagai penentu kemenangan pilpres. Perolehan suaranya pada pileg kemarin membuktikan mesin politik partai berlambang beringin ini bekerja maksimal.
"Kalau Golkar merapat ke Jokowi maka capres PDIP itu akan menang dalam pilpres nanti. Begitu juga jika Golkar ke Prabowo," jelas Pengamat politik Konsep Indonesia (Konsepindo) Research and Consulting, Budiman, saat dihubungi, Kamis (15/5).
Dia menjelaskan, jika bergabung dengan koalisi PDIP, maka nantinya lebih dari 50% kursi DPR akan dikuasai. Kalau bergabung dalam Gerindra, PPP, PAN, maka menguasai lebih dari 50%. Poros tengahpun dinilainya wajib mengajak Golkar jika ingin menguasai lebih dari 50 persen kursi DPR.
Sejak kemarin, jelasnya, semua partai berusaha mengajak Golkar bergabung dengan mereka. Rapimnas nantinya akan memutuskan kemana Golkar harus bergabung. "Semuanya menunggu rapimnas," jelas Wakil Ketum Golkar, Fadel Muhammad. Dia menjelaskan rapimnas adalah forum tertinggi untuk merumuskan dan menyepakati langkah politik yang akan dijalankan lima tahun kedepan.
Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Kholis Ridho, menjelaskan Golkar menjadi bandul penentu kemenangan koalisi. Perolehan suaranya yang berada pada peringkat kedua pada pileg kali ini menjadi posisi tawar yang menentukan. "Tidak salah jika kemudian menjadi rebutan banyak partai," jelasnya.